Selasa, 09 Agustus 2011

Manusia Pertama di Bumi

Alloh SWT mengambil segenggam tanah dari pegunungan, segenggam dari tanah datar, segenggam dari tanah pantai dan segenggam dari tanah yang subur. Dicampurnya dengan air hingga menjadi adonan yang bisa dibentuk. Dari adonan itu dibentuklah makhluk yang kelak bernama manusia. Alloh SWT membiarkannya tertidur di surga hingga 40 tahun lamanya.
Malaikat dan Azazeel alias Iblis sering melewati patung tersebut. Mereka penasaran untuk apakah Alloh menciptakannya. Setiap kali melewatinya, Azazeel sering berkata “kau diciptakan untuk sesuatu yang hebat.”
Suatu ketika para penghuni surga mendengar kabar bahwa Alloh akan menunjuk salah satu dari penghuni surga untuk tinggal di bumi. Mereka gelisah dan ketakutan.
Malaikat berbondong-bondong menemui Azazeel alias Iblis di tempatnya berdoa di surga. Dulu, seperti halnya malaikat, iblis sangat rajin berdoa dan berdzikir kepada Alloh. Ia pun terkenal paling pintar dan serba tahu. Para Malaikat berharap mendapatkan informasi darinya.
“Wahai Azazeel, tahukah engkau bahwa Alloh akan mengirim satu makhluknya untuk mendiami bumi? Apakah engkau tahu siapakah ia? Sesungguhnya kami sangat takut kamilah yang akan ditunjuk.” tanya Jibril.
Azazeel termenung karena ia pun tak tahu jawabannya. Tapi ia meyakinkan para Malaikat untuk tidak khawatir karena ia akan berdoa kepada Alloh SWT. Ia lupa bahwa mungkian ia sendiri, sebagai makhluk yang paling pintar, yang akan terpilih.
Ternyata Alloh SWT menunjuk makhluk yang telah ia bentuk dan belum bernyawa sebagai penghuni bumi.
“Apakah Engkau hendak mengirim makhluk yang hanya akan berbuat kerusakan di muka bumi? Sementara kami selalu memuja-Mu,” tanya Malaikat.
Alloh berfirman, “Aku tahu hal-hal yang tidak kalian ketahui.”
Saat itulah Alloh SWT meniupkan ruh ke dalam patung tanahnya. Ketika roh yang ditiupkan Alloh mencapai hidungnya, ia bersin.
“Alhamdulillah!” ucapnya.
Ruhnya mulai menyebar ke seluruh jaringan tubuhnya. Ia membuka matanya, menggerakkan tangan dan kakinya. Sebelum ruhnya mencapai lututnya, ia sudah melompat.
“Sesungguhnya ia makhluk yang senang terburu-buru,” firman-Nya.
Kini patung itu telah bernyawa dan menjelma menjadi seorang manusia yang amat rupawan. 

Iblis Membangkang
“Bersujudlah kalian kepada Adam!” perintah Alloh kepada Malaikat dan Iblis.
Nabi Adam AS menatap makhluk-makhluk yang serentak bersujud di hadapannya kecuali satu makhluk yang berdiri agak menjauh.
“Hai Iblis, apa yang mencegahmu menolak perintah-Ku? Kenapa kau tidak mau bersujud pada makhluk yang Aku ciptakan dengan tangan-Ku sendiri?” tanya Alloh SWT.
Iblis menjawab dengan penuh kesombongan.
“Aku lebih hebat dari dia. Kau menciptakanku dari api sedangkan ia dari lumpur yang kotor. Buat apa aku menghormatinya?”
Alloh murka mendengarnya. Diusir-Nya Iblis dari surga.
“Aku menerima keputusan-Mu,” kata Iblis. “Tapi aku ingin menyampaikan permohonan. Izinkan aku tetap hidup hingga hari kiamat tiba.”
Alloh mengabulkan permintaannya.
“Karena Kau telah mengusirku, aku bersumpah akan selalu menggoda manusia untuk berpaling dari-Mu. Mereka akan menjadi temanku di neraka!” ancam Iblis.
Iblis juga menanyakan beberapa hal sebelum ia pergi yaitu: dimanakah ia harus tinggal, bagaimana ia makan dan dimana ia tidur.
“Kau akan tinggal bersama orang yang tidak mengucapkan Bismillahirrohmanirrohim saat ia masuk rumah. Kau akan makan bersama mereka yang tidak mengucapkan Bismillahirrohmanirrohim saat akan makan dan tidur bersama mereka yang tidak mengucapkan Bismillahirrohmanirrohim sebelum tidur,” firman Alloh. 
Penciptaan Hawa

Nabi Adam tinggal di surga dan mempelajari banyak hal sehingga ia mengetahui nama setiap benda. Seringkali Nabi Adam merasa kesepian. Setiap ras yang tinggal di surga berjumlah banyak sementara ia hanya sendirian. Suatu hari ketika Nabi Adam bangun dari tidurnya, didapatinya seorang wanita yang sangat cantik dan bermata indah tertidur di dekat kepalanya. Para malaikat yang ingin menguji kepintaran nabi Adam.
“Siapakah namanya wahai Adam?”
“Hawa (artinya makhluk hidup)!”
“Kenapa kau memanggilnya Hawa?” tanya malaikat lagi.
“Karena ia diciptakan dariku dan aku adalah makhluk hidup.”
Alloh swt berfirman, “Wahai Adam tinggalah kau dan istrimu di surga. Makanlah apapun yang kau mau kecuali buah dari pohon yang satu itu. Aku haramkan kau untuk memakannya. Sesungguhnya jika kau melanggarnya, engkau termasuk orang yang berdosa.”
Iblis tidak senang melihat kebahagiaan Nabi Adam dan Hawa di surga. Ia berusaha keras menggoda mereka supaya terusir dari surga seperti dirinya.
Suatu hari ia menyelinap ke dalam surga dan mendatangi nabi Adam, berpura-pura sebagai teman.
“Tahukah kenapa kau dilarang untuk mendekati pohon itu?” tanyanya. “Karena kalau kau memakan buahnya, kau akan abadi di surga. Bahkan mungkin bisa menjadi malaikat.”
Nabi Adam ingin sekali tinggal di surga selamanya tapi ia ragu jika harus melanggar perintah Alloh. Semakin lama Nabi Adam dan Hawa semakin ingin mencoba buah terlarang tersebut. Akhirnya Nabi Adam memanjat dan memetik dua biji buahnya. Satu diberikannya kepada Hawa. Hanya dengan satu gigitan cukup untuk menghentikan nyanyian surga di telinga mereka. Mereka berdua merasakan bahwa suasana di sekitar mereka berubah. Hati mereka yang biasanya damai tiba-tiba dapat merasakan sakit, sedih dan malu. Lalu saat mereka membuka mata, ternyata pakaian mereka telah hilang. Dengan malu mereka mencoba menutupi auratnya dengan daun-daunan. Lalu terdengarlah suara Alloh berfirman: “Bukankah Aku sudah melarangmu mendekati pohon itu dan bahwa setan adalah musuh yang nyata bagimu?”
Nabi Adam dan Hawa menangis memohon ampun. Alloh swt mengampuni mereka berdua tetapi mereka tidak boleh lagi tinggal di surga.
“Turunlah kalian ke bumi. Di sanalah kalian akan hidup untuk sementara dan di sana pula kalian akan mati.” Maka turunlah mereka ke bumi. Tempat yang memang telah direncanakann untuk dihuni umat manusia, bukan karena kesalahan yang mereka lakukan. Tempat yang sangat berbeda dari surga. Tempat dimana kebahagiaan bercampur dengan kesedihan. Tempat dimana kemudahan selalu diikuti dengan kesulitan. Tempat kesempitan menyesakkan dada tapi penuh kesempatan indah bagi mereka yang berusaha. Di sinilah Nabi Adam dan Hawa tinggal. Ia menurunkan jutaan suku dan bangsa termasuk saya dan anda. Hingga kini setan tetap giat menggoda kita untuk berpaling dari-Nya. Semoga kita selalu terhindar dari bujuk rayunya.




Nabi Sulaiman AS dan Ratu Bilqis


Nabi Sulaiman AS dari negeri Ursyalim adalah putra nabi Daud AS yang memimpin negeri ini dengan sangat bijaksana. Negeri Ursyalim dikaruniai tanah yang subur dan diberikan curahan rizki yang berlimpah. Kerajaan Ursyalim merupakan kerajaan terkaya sepanjang masa. Tidak ada kerajaan manapun sebelum dan setelah kekuasaan nabi Sulaiman AS yang bisa menandingi kekayaannya. Negerinya begitu luas, bahkan di dalam istananya tebentang padang yang sebagian dihampari emas dan sebagian dihampari perak sebagai permadaninya. Dan jika tentaranya berbaris di padang itu, panjang barisannya tidak kurang dari 3 mil. Selain itu sebagai seorang nabi, nabi Sulaiman diberi mujizat yang luar biasa, dia menguasai bahasa binatang dan jin. Tidak heran jika kekuasaannya tidak hanya meliputi umat manusia tetapi juga menguasai kerajaan binatang dan kerajaan jin. Kendaraan nabi Sulaiman adalah angin, sehingga dia bisa sampai di suatu tempat hanya dengan hitungan detik.
Meski kerajaannya begitu luas, namun nabi Daud AS dan Nabi Sulaiman AS dapat menjamin kemakmuran rakyatnya. Setiap hari beribu-ribu ternak dikurbankan dan dagingnya dibagikan kepada rakyat. Piring-piring sebesar kolam dan periuk-periuk yang tidak pernah meninggalkan tungkunya tersebar di wilayah kerajaan, sehingga rakyat tidak pernah kekurangan makanan. Selain itu kebijakan dan kearifan kedua nabi ini tidak perlu diragukan lagi.
Suatu hari nabi Sulaiman mendengar bahwa di sebuah negeri bernama negeri Shaba, ada seorang ratu yang kecantikannya tiada tara. Sayang rakyat di negeri itu masih menyembah matahari sebagai Tuhan mereka. Maka diutuslah seekor burung bulbul untuk menyampaikan surat kepada ratu Shaba. Isi surat itu adalah supaya negeri Shaba menyerahkan diri kepada negeri Ursyalim dan mengakui Alloh SWT sebagai Tuhan yang Esa.
Sementara itu ratu Shaba yang menerima surat tersebut, mengumpulkan majlisnya dan meminta pertimbangan. Ramailah suasana di dalam majlis itu. Sebagian menginginkan perang dan sebagian lagi mengusulkan untuk berdamai. Kebetulan saat menerima surat itu, negeri Syaba sedang mengalami musibah. Banyak warga Syaba yang terkena wabah yang mematikan, sehingga sebagian warga telah menjadi korban. Hal ini mebuat pertahanan negeri ini menjadi porak poranda. Dan berdasarkan pertimbangan itu pula ratu memutuskan untuk mengirimkan utusan yang akan mempersembahkan hadiah kepada raja Ursyalim sebagai tanda perdamaian. Namun ternyata raja Ursyalim menolaknya dan mengancam akan menyerang negeri syaba jika mereka tetap tidak mau bertobat.
Akhirnya ratu memutuskan untuk datang sendiri mengunjungi negeri Ursyalim untuk bertemu dengan nabi Sulaiman AS.
Perjalanan menuju Ursyalim membutuhkan waktu berhari-hari dan harus ditempuh dengan jalur darat dan laut. Namun lelahnya perjalanan itu terobati ketika melihat betapa indahnya negeri Ursyalim. Nabi Sulaimn AS sendiri yang menyambut rombongan ratu Syaba.
“Perkenankan aku memanggilmu Bilqis wahai ratu Shaba. Artinya adalah permaisuri yang cantik,” kata nabi Sulaiman yang membuat ratu Shaba itu tersipu.
Di depan gerbang istana ratu tercengang melihat kemegahan istana Ursyalim. Istana itu terletak seolah di tengah-tengah sebuah kolam yang sangat jernih.
Dan nabi pun berkata, “Wahai Bilqis masuklah engkau ke dalam istana!”
Maka ratu mengangkat sedikit roknya karena takut airnya akan membasahi roknya.
Melihat itu nabi menenangkannya dan berkata,”Jangan takut wahai Bilqis, sesungguhnya yang kaulihat ini bukan air melainkan kaca yang licin.”
Mereka lalu masuk ke dalam istana dan nabi Sulaiman mempersilahkan ratu Shaba atau ratu Bilqis untuk duduk di singgasana. Betapa terkejutnya ratu ketika menyadari bahwa singgasana yang akan didudukinya adalah tidak lain singgasananya sendiri yang seharusnya berada di negerinya.
“Apakah singgasana ini mirip dengan singgasanamu? Tanya nabi.
“Yah, memang mirip. Hanya saja ada beberapa permata yang hilang dari tempatnya,” jawab ratu sambil meneliti singgasana tersebut.
“Itu memang singgasanamu!” kata nabi.
“Bagaimanakah caranya singgasanaku bisa sampai kemari sementara aku menguncinya di negeriku?” tanya ratu.
“Tentu atas ijin Alloh, seseorang bisa membawanya kemari bahkan sebelum aku sempat berkedip,” kata nabi.
Ratu terkagum-kagum mendengar penjelasan nabi. Kini dia semakin yakin bahwa nabi Sulaiman bukan raja sembarangan.
Mereka lalu menuju taman istana dimana berbagai macam buah tumbuh subur dan di dalamnya mengalir sungai-sungai yang mengalirkan air dengan bermacam rasa. Sungguh anugrah Alloh yang luar biasa. Melihat semua peristiwa ini, ratu Bilqis menyatakan keimanannya kepada Alloh SWT dan mengakui nabi Sulaiman sebagai rosul utusan Alloh.
Ternyata pertemuan dua insan ini menimbulkan rasa cinta yang mendalam, sehingga nabi Sulaiman AS meminang ratu Syaba dan mereka pun menikah.
Cinta sejati mereka hanya terpisahkan ketika pada suatu hari di masa tuanya, nabi sedang mengawasi para jin bekerja lalu tiba-tiba jatuh tesungkur karena tongkat yang dipegangnya dimakan rayap. Rupanya nabi telah tiada sejak lama. Dan kalau bukan karena rayap yang menggerogoti tongkatnya hingga patah, tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa nabulloh itu telah pergi. Subhanalloh semoga kita selalu menjadi hamba Alloh yang bersyukur. Amin.

Nabi Ibrahim Menghancurkan Berhala

Nabi Ibrahim AS dilahirkan di Babylonia saat rakyat di negeri itu menjadi penyembah berhala. Berhala mereka banyak. Ada yang kecil ada pula yang besar dengan bermacam-macam bentuk. Setiap hari mereka meletakan sesaji di bawah kaki-kaki berhala itu padahal patung-patung itu tidak akan mungkin memakannya. Ayah nabi Ibrahim sendiri adalah pembuat berhala ternama. Namun sejak kecil Alloh selalu melindungi hati nabi Ibrahim, sehingga dia menolak untuk menyembah berhala. Sejak kecil dia sering pergi ke gua untuk mencari tahu siapa Tuhan yang patut disembah. Awalnya dia yakin bahwa matahari adalah Tuhan, karena dia bersinar dengan terang dan kelihatan agung. Namun matahari selalu tenggelam di sore hari, maka dia yakin bahwa matahari bukanlah Tuhan karena matahari tidak kekal dan Tuhan haruslah abadi. Hingga akhirnya Alloh menurunkan firman-Nya dan mengangkatnya menjadi rasul dan memerintahkan untuk mengajarkan agama Tauhid kepada kaumnya.
Mulailah nabi Irahim mengajarkan keesaan Tuhan kepada kaumnya, bahwa tiada Tuhan yang wajib disembah kecuali Alloh SWT. Sangat sulit mengubah keyakinan yang sudah berakar kuat itu. Hanya sedikit yang mau beriman kepada agama nabi Ibrahim. Mereka bahkan mengejek dan memusuhi nabi Ibrahim beserta kaumnya. Bahkan ayahnya pun turut membujuk nabi Ibrahim untuk meninggalkan keyakinannya. “Tidak ayah, meski aku harus mati terbunuh, aku tidak akan berhenti menyembah Alloh Tuhan sekalian alam,” kata nabi Ibrahim lantang.
Saat itu Babylonia dipimpin oleh raja Namrudz yang juga peyembah berhala. Setiap tahun raja Namrudz selalu mengadakan perayaan besar untuk menghormati tuhan-tuhan mereka. Semua berhala akan dicuci dan diberi wewangian dan kemudian diberi sesaji. Lalu mereka akan berkumpul di lapangan utnuk berpesta. Pada saat itu ruang tempat penyimpanan berhala raja Namrudz akan ditinggalkan penjaganya. Maka nabi Ibrahim pergi ke ruang berhala. Dia melihat di dalam gedung itu ada puluhan berhala berbagai bentuk dan ukuran. Nabi Ibrahim membawa sebuah kampak. Dengan kampak itu dihancukannya semua berhala kecuali satu yang paling besar. Kampaknya dia gantungkan di leher berhala besar itu. Kemudian dia melenggang meninggalkan tempat itu.
Ketika raja Namrudz dan rakyatnya kembali, mereka terkejut melihat tuhan-tuhan mereka sudah berantakan. Mereka semua marah dan bertanya-tanya siapa pelakunya. Lalu seseorang berkata, “ini pasti ulah Ibrahim. Dia kan tidak suka dengan tuhan-tuhan kita. Jadi pasti dia!” Mereka semua setuju bahwa nabi Ibrahimlah yang bertanggung jawab dan karena itu harus dihukum. Maka raja Namrudz memerintahkan untuk membawa nabi Ibrahim ke hadapannya.
“Wahai Ibrahim. Katakan dengan jujur, benarkah kau yang menghancurkan tuhan-tuhan kami?” tanya raja Namrudz.
Nabi Ibrahim melihat ke sekelilingnya lalu berkata dengan tenang, “apakah ada buktinya bahwa saya yang melakukannya. Kenapa kalian tidak menuduh berhala besar yang di sana itu. Bukankah di lehernya tergantung kampak. Itu bukti bahwa dia yang menghancurkan berhala lainnya.”
Semua yang hadir di situ tertawa mendengar jawaban nabi Ibrahim. Mereka mencemoohkan dan menganggap nabi Ibrahim sudah gila. “Mana mungkin berhala itu bisa menghancurkan berhala lainnya? Dia tidak bisa bergerak dari tempatnya!” kata raja Namrudz.
“Lalu kenapa kalian percaya mereka adalah Tuhan yang melindungi kalian? Sedangkan menolong dirinya sendiri saja mereka tidak mampu,” kata nabi Ibrahim tenang. “Tuhanku adalah Alloh swt yang menciptakan alam semesta juga menghidupkan dan mematikan manuasia” lanjut nabi Ibrahim.
“Aku juga bisa! Dengan perintahku aku bisa membunuh orang supaya mati atau membiarkan mereka tetap hidup!” kata raja Namrudz.
“Alloh Tuhanku bisa menerbitkan matahari dari ufuk timur dan menenggelamkannya di ufuk barat. Apakah tuan bisa?” tantang nabi Ibrahim.
Mereka semua terdiam. Dalam hati mereka membenarkan jawaban tersebut. Namun raja Namrudz tidak ingin kehilangan wibawanya. Dia memerintahkan pengawalnya untuk mencari ranting kering dan membuat api unggun yang besar. “Aku akan membakarmu hidup-hidup! Coba buktikan bahwa Tuhanmu bisa menolongmu!” tantang raja Namrudz. Nabi Ibrahim tetap tenang menghadapi tantangan itu. Lalu dia berdoa kepada Alloh untuk memohon perlindungan-Nya. Alloh berkenan utuk melindungi nabi Ibrahim. Ketika nabi Ibrahim masuk ke dalam api unggun dan api sudah mulai membakarnya, Alloh memerintahkan api untuk menjadi dingin sehingga nabi Ibrahim lolos dari maut.
Begitulah jika Alloh berkehendak, maka hal yang mustahil pun bisa terjadi. Namun kesesatan memang sulit diluruskan. Raja Namrudz dan umatnya tetap saja ingkar dengan ajaran nabi Ibrahim dan tetap menyembah berhala. 

sumber : www.freewebs.com

Senin, 11 Juli 2011

SINBAD

Dahulu, di daerah Baghdad, timur tengah, ada seorang pemuda bernama Sinbad yang kerjanya memanggul barang-barang yang berat dengan upah yang sedikit, sehingga hidupnya tergolong miskin. Suatu hari, Sinbad beristirahat di depan pintu rumah saudagar kaya karena sangat lelah dan kepanasan. Sambil istirahat, ia menyanyikan lagu. "Namaku Sinbad, hidupku sangat malang, berapapun aku bekerja dengan memanggul beban di punggung tetaplah penderitaan yang kurasakan." Tak berapa lama muncul pelayan rumah itu, menyuruh Sinbad masuk karena dipanggil tuannya.

"Apakah namamu Sinbad ?", "Benar Tuan". "Namaku juga Sinbad", kata sang saudagar. Ia pun mulai bercerita, "Dulu aku seorang pelaut. Ketika mendengar nyanyianmu, aku sangat sedih karena kau berpikir hanya kamu sendiri yang bernasib buruk, dulu nasibku juga buruk, orangtua ku meninggalkan banyak warisan, tetapi aku hanya bermain dan menghabiskan harta saja. Setelah jatuh miskin aku bertekad menjadi seorang pelaut. Aku menjual rumah dan semua perabotannya untuk membeli kapal dan seisinya. Karena sudah lama tidak menemui daratan, ketika ada daratan yang terlihat kami segera merapatkan kapal. Para awak kapal segera mempersiapkan makan siang. Mereka membakar daging dan ikan. Tiba-tiba , permukaan tanah bergoyang. Pulau itu bergerak ke atas, para pelaut berjatuhan ke laut. Begitu jatuh ke laut, aku sempat melihat ke pulau itu, ternyata pulau tersebut, berada di atas badan ikan paus. Karena ikan paus itu sudah lama tak bergerak, tubuhnya ditumbuhi pohon dan rumput, mirip seperti pulau. Mungkin karena panas dari api unggun, ia mulai bergerak liar.
Mereka yang terjatuh ke laut di libas ekor ikan paus sehingga tenggelam. Aku berusaha menyelamatkan diri dengan memeluk sebuah gentong, hingga aku pun terapung-apung di laut. Beberapa hari kemudian, aku berhasil sampai ke daratan. Aku haus, disana ada pohon kelapa. Kemudian aku memanjatnya dan mengambil buah dan meminum airnya. Tiba-tiba aku melihat ada sebutir telur yang sangat besar. Ketika turun, dan mendekati telur itu, tiba-tiba dari arah langit, terdengar suara yang menakutkan disertai suara kepakan saya yang mengerikan. Ternyata, seekor burung naga yang amat besar.

Setelah sampai disarangnya, burung naga itu tertidur sambil mengerami telurnya. Sinbad menyelinap dikaki burung itu, dan mengikat erat badannya di kaki burung naga dengan kainnya. "Kalau ia bangun, pasti ia langsung terbang dan pergi ke tempat di mana manusia tinggal." Benar, esoknya burung naga terbang mencari makanan. Ia terbang melewati pegunungan dan akhirnya tampak sebuah daratan. Burung naga turun di sebuah tempat yang dalam di ujung jurang. Sinbad segera melepas ikatan kainnya di kaki burung dan bersembunyi di balik batu. Sekarang Sinbad berada di dasar jurang. Sinbad tertegun, melihat disekelilingnya banyak berlian.

Pada saat itu, "Bruk" ada sesuatu yang jatuh. Ternyata gundukan daging yang besar. Di gundukan daging itu menempel banyak berlian yang bersinar-sinar. Untuk mengambil berlian, manusia sengaja menjatuhkan daging ke jurang yang nantinya akan diambil oleh burung naga dengan berlian yang sudah menempel didaging itu. Sinbad mempunyai ide. Ia segera mengikatkan dirinya ke gundukan daging. Tak berapa lama burung naga datang dan mengambil gundukan daging, lalu terbang dari dasar jurang. Tiba-tiba, "Klang! Klang! Terdengar suara gong dan suling yang bergema. Burung naga yang terkejut menjatuhkan gundukan daging dan cepat-cepat terbang tinggi. Orang-orang yang datang untuk mengambil berlian, terkejut ketika melihat Sinbad.

Sinbad menceritakan semua kejadian yang dialaminya. Kemudian orang-orang pengambil berlian mengantarkan Sinbad ke pelabuhan untuk kembali ke negaranya. Sinbad menjual berlian yang didapatnya dan membeli sebuah kapal yang besar dengan awak kapal yang banyak. Ia berangkat berlayar sambil melakukan perdagangan. Suatu hari, kapal Sinbad dirampok oleh para perompak. Kemudian Sinbad dijadikan budak yang akhirnya dijual kepada seorang pemburu gajah. "Apakah kau bisa memanah?" Tanya pemburu gajah. Sang pemburu memberi Sinbad busur dan anak panah dan diajaknya ke padang rumput luas. "Ini adalah jalan gajah. Naiklah ke atas pohon, tunggu mereka datang lalu bunuh gajah itu". "Baik tuan," jawab Sinbad ketakutan.

Esok pagi, datang gerombolan gajah. Saat itu pemimpin gajah melihat Sinbad dan langsung menyerang pohon yang dinaiki Sinbad. Sinbad jatuh tepat di depan gajah. Gajah itu kemudian menggulung Sinbad dengan belalainya yang panjang. Sinbad mengira ia pasti akan dibunuh atau di banting ke tanah. Ternyata, gajah itu membawa Sinbad dengan kelompok mereka ke sebuah gunung batu. Akhirnya terlihat sebuah air terjun besar. Dengan membawa Sinbad, gajah itu masuk ke dalam air terjun menuju ke sebuah gua. "Ku..kuburan gajah!" Sinbad terperanjat. Di gua yang luas bertumpuk tulang dan gading gajah. Pemimpin gajah berkata,"kalau kau ingin gading ambillah seperlunya. Sebagai gantinya, berhentilah membunuh kami." Sinbad berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Ia pulang dengan memanggul gading gajah dan menyerahkan ke tuannya dengan syarat tuannya tidak akan membunuh gajah lagi. Tuannya berjanji dan kemudian memberikan Sinbad uang.

"Sampai disini dulu ceritaku", ujar Sinbad yang sudah menjadi saudagar kaya. "Aku bisa menjadi orang kaya, karena kerja keras dengan uang itu. Jangan putus asa, sampai kapanpun, apalagi jika kita masih muda," lanjut sang saudagar.

KISAH DZUL QARNAEN

Dalam Quran DzulQarnaen digambarkan sebagai seorang muslim yang soleh.Di masa lalu tradisi Islam memang menyamakan Dzulqarnaen dengan Alexander Agung. Ini dapat dilihat banyak Muslim memakai nama Iskandar.
Yusuf Ali mengindentifikasi Dzul-Qarnain sebagai Alexander Agung :
"Secara pribadi, tidak menyangsikan bahwa Dzul-Qarnain adalah Alexander Agung, Alexander yang historis, dan bukan legenda......................."
Tetapi kenyataan sejarah berbeda dengan pernyataan Quran, kerena Alexander Agung ternyata adalah penyembah berhala. Muslimpun mulai menolak dan mencari figure lain untuk DzulQarnaen misal raja Cyrus dari Persia ??

Meskipun demikian, sebetulnya secara histories, DzulQarnaen cenderung merujuk ke Iskandar Agang. Menurut Ibnu Kathir : penduduk Mekkah pergi ke Ahli Kitab, dan bertanya pertanyaan apa yang harus diberikan kepada Muhammad untuk mengetesnya, dan dijawab oleh ahli kitab untuk menanyakan 3 hal yang salah satunya mengenai Dzul-Qarnaen .Pertanyaan mengenai ZulQarnaen dijawab oleh Muhammad seperti pada ayat Q18:89-90 dan seterusnya.

Kisah ini membuktikan bahwa nama Dzul-Qarnaen sudah dikenal dikalangan Yahudi dan Nasrani . Kedua kelompok orang tsb. tentu saja tidak akan bercerita tentang raja Persia, kerena tidak ada hubungannya (disamping itu Persia juga menindas mereka).

Tapi kenapa Quran yang dipercaya sebagai dari “Allah” , bisa demikian fatal mengatakan Alexander Agung sebagai mukmin ? Apa hubungannya dengan Yahudi dan Nasrani ? Lagi-lagi Kisah Yahudi penyebabnya :

Dalam Midrash Alexander, konon ketika balatentara Alexander Agung hendak memasuki Yudea dan Yerusalem, Imam besar mendapat peringatan melalui mimpi, melihat dirinya sendiri memakai jubah ungu, topi, dan plat emas bertuliskan nama Tuhan.

Ketika Alexander hendak memasuki Yerusalem, ia disambut dengan pakaian kebesaran imam tsb. Alexander tercengang, kerena orang yang perpakaian seperti imam besar tsb. pernah datang melalui mimpinya, dan memintanya untuk tidak menunda menyerang Asia. Setelah mimpi itu Alexander, selalu dapat kemenangan dengan mudah dan mengalahkan Darius (Persia).

Alexander pun takjub dan menghormati Yahweh, serta memberikan hak istimewa dan kebebasan menjalankan ibadah pada kaum Yahudi. Dengan membebaskan kaum Yahudi dari cengkeraman Darius (Persia), Alexander dianggap pembebas, meskipun pada kenyataannya ia adalah pagan dan sama saja dengan Fir'aun. Cerita-cerita Alexander Agung, dan mengenai perjalanannya ke Timur dan Barat menjadi popular dikalangan Yahudi dan Kristen. Salah satu sumber cerita itu adalah tulisan yang didasarkan pada karangan Pseudo-Callisthenes (200BC) .

Jadi kelihatannya kerena Yahudi menghormati Alexander Agung sebagai pembebas, maka Muhammadpun menganggapnya sebagai Mukmin yang soleh. Dan secara fatal fakta sejarah yang salah itu tercantum dalam Quran.

Raja Yang Bodoh

Dahulu kala, ada seorang raja yang pesolek dan sangat suka mengenakan baju-baju baru. Dia banyak menghabiskan waktu hanya untuk memandangi dirinya sendiri di cermin, dan selalu ingin mengenakan baju-baju baru di pagi, siang dan malam hari!! 
Pada suatu hari, datanglah dua orang penipu yang menyamar sebagai pembuat baju yang hebat. Mereka mengaku bahwa mereka pandai menenun dan membuat baju dengan kualitas yang sangat bagus, sampai-sampai kain yang mereka pakai untuk membuat baju tidak akan terlihat, kecuali oleh orang-orang pintar.  

Ketika raja mendengar hal itu, dia sangat tertarik. “Itu bagus, aku bisa tahu siapa saja yang bodoh dan siapa saja yang pintar di kerajaan ini.” Pikirnya. Raja segera memerintah kedua orang itu untuk membuatkan baju baru untuk dirinya, menggunakan bahan kain istimewa itu. Mereka diberi sebuah ruangan khusus di istana, beserta benang-benang emas yang mereka minta. Kedua penipu itu menyembunyikan benang-benang emas yang mereka terima, kemudian berpura-pura sedang bekerja keras untuk membuat sebuah baju. 

Beberapa hari kemudian, raja yang tidak sabar mengutus menteri nya untuk menengok baju istimewa yang sedang dibuat itu. Ketika menteri mengunjungi para penipu yang menyamar itu, ia pun kebingungan. “Aku tidak melihat apa pun disini” pikirnya. Akan tetapi menteri itu tidak mau mengakuinya karena tidak ingin dianggap bodoh. Maka ia pun memuji kedua penipu itu dan mengatakan bahwa baju yang mereka buat sangat indah. Setelah menteri keluar dari ruangan itu, kedua penipu tertawa terbahak-bahak. 

Tak lama kemudian sang raja datang untuk melihat sendiri. Dia berusaha melihat keseluruh ruangan, tapi ia tidak melihat apa pun. Namun, karena tidak ingin dianggap bodoh, raja pun berpura-pura bisa melihat baju yang istimewa itu dan berkata, “Baju yang sangat indah, aku tidak sabar ingin segera memakainya” 

Keesokan harinya adalah hari dimana sang raja akan mengenakan baju barunya pada acara pawai keliling kota. Kedua penipu yang menyamar telah berpamitan dan pergi dengan alasan akan membuatkan baju untuk raja dari kerajaan-kerajaan lain. Tentu saja, mereka tidak lupa membawa benang-benang emas yang telah mereka sembunyikan, beserta uang emas upah membuat baju. 

Saat raja memakai baju barunya, ia tetap saja tidak bisa melihat baju itu, dan ia merasa kedinginan. Tapi karena tidak ingin dibilang bodoh, raja pun berputar-putar di depan cermin dan mengagumi baju barunya, walaupun ia tidak melihat apa-apa. Semua pegawai kerajaan juga mengatakan bahwa baju baru itu sangat indah, karena mereka juga tidak ingin dianggap bodoh.

Seluruh rakyat telah mendengat bahwa raja akan mengenakan baju baru sang spesial hari itu. Saat sang raja muncul, semuanya terkejut. Akan tetapi mereka juga telah mendengar kabar bahwa baju baru yang spesial itu hanya dapat dilihat oleh orang yang pintar saja, dan karena mereka tidak ingin dianggap bodoh, mereka pun berseru-seru memuji sang raja.  

Mendadak terdengar suara anak kecil berteriak, “tetapi, dia kan tidak pakai baju, sang raja telanjang!” Semua terdiam. Raja pun menyadari bahwa anak kecil itu berkata jujur, dan dengan terburu-buru ia berjalan kembali ke istana.

Dongeng anak populer "Raja yang Bodoh", disadur dari berbagai sumber.

Alibaba dan Penyamun

Pada jaman dahulu dikota Persia, hidup 2 orang bersaudara yang bernama Kasim dan Alibaba. Kedua saudara itu memiliki perbedaan dalam hidupnya. Alibaba hidup dalam kemiskinan dan tinggal di daerah pegunungan. Ia mengandalkan hidupnya dari penjualan kayu bakar yang dikumpulkannya. Berbeda dengan kakaknya yang hidup kecukupan, tetapi serakah.

Suatu hari, ketika Alibaba pulang dari mengumpulkan kayu bakar, ia melihat segerombol penyamun yang berkuda. Alibaba segera bersembunyi karena takut dibunuh jika para penyamun melihatnya. Dari tempat persembunyiannya, Alibaba memperhatikan para penyamun sedang sibuk menurunkan harta rampokannya dari kuda mereka. Kepala penyamun tiba-tiba berteriak, "Alakazam ! Buka…..". Pintu gua yang ada di depan mereka tiba-tiba terbuka perlahan-lahan. Setelah itu mereka segera memasukkan seluruh harta rampokan mereka. "Alakazam ! tutup… " teriak kepala penyamun, pintu gua pun tertutup.

Setelah para penyamun tersebut pergi, Alibaba memberanikan diri keluar dari tempat sembunyinya. Ia mendekati pintu gua tersebut dan meniru teriakan kepala penyamun tadi. "Alakazam! Buka….." pintu gua yang terbuat dari batu itu terbuka. "Wah… Hebat!", teriak Alibaba sambil terpana sebentar karena melihat harta yang bertumpuk-tumpuk seperti gunung. "Gunungan harta ini akan Aku ambil sedikit, semoga aku tak miskin lagi, dan aku akan membantu tetanggaku yang kesusahan". Setelah mengarungkan harta dan emas tersebut, Alibaba segera pulang setelah sebelumnya menutup pintu gua. Istri Alibaba sangat terkejut melihat barang yang dibawa Alibaba. Alibaba kemudian bercerita pada istrinya apa yang baru saja dialaminya. "Uang ini sangat banyak… bagaimana jika kita bagikan kepada orang-orang yang kesusahan.." ujar istri Alibaba. Karena terlalu banyak, uang emas tersebut tidak dapat dihitung Alibaba dan istrinya. Akhirnya mereka sepakat untuk meminjam timbangan kepada saudaranya, Kasim. Istri Alibaba segera pergi meminjam timbangan kepada istri Kasim. Karena istri Kasim sangat pencuriga, maka ia mengoleskan minyak yang sangat lengket di dasar timbangan.

Keesokannnya, setelah timbangan dikembalikan, ternyata di dasar timangan ada sesuatu yang berkilau. Istri Kasim segera memanggil suaminya dan memberitahu suaminya bahwa di dasar timbangan ada uang emas yang melekat. Kasim segera pergi ke rumah Alibaba untuk menanyakan hal tersebut. Setelah semuanya diceritakan Alibaba, Kasim segera kembali kerumahnya untuk mempersiapkan kuda-kudanya. Ia pergi ke gua harta dengan membawa 20 ekor keledai. Setibanya di depan gua, ia berteriak "Alakazam ! Buka…", pintu batu gua bergerak terbuka. Kasim segera masuk dan langsung mengarungkan emas dan harta yang ada didalam gua sebanyak-banyaknya. Ketika ia hendak keluar, Kasim lupa mantra untuk membuka pintu, ia berteriak apa saja dan mulai ketakutan. Tiba-tiba pintu gua bergerak, Kasim merasa lega. Tapi ketika ia mau keluar, para penyamun sudah berada di luar, mereka sama-sama terkejut. "Hei maling! Tangkap dia, bunuh!" teriak kepala penyamun. "Tolong… saya jangan dibunuh", mohon Kasim. Para penyamun yang kejam tidak memberi ampun kepada Kasim. Ia segera dibunuh.

Istri Kasim yang menunggu di rumah mulai kuatir karena sudah seharian Kasim tidak kunjung pulang. Akhirnya ia meminta bantuan Alibaba untuk menyusul saudaranya tersebut. Alibaba segera pergi ke gua harta. Disana ia sangat terkejut karena mendapati tubuh kakaknya sudah tergeletak di tanah. Setibanya dirumah, istri Kasim menangis sejadi-jadinya. Dia sangat sedih karena suaminya sudah meninggal dunia. Sebelum Kasim dimakamkan, Alibaba membawa tubuh kakaknya itu ke tabib. Alibaba meminta tabib itu menjahit luka di tubuh kakaknya. Setelah selesai menjahit, Alibaba memberikan upah beberapa uang emas.

Dilain tempat, di gua harta, para penyamun terkejut, karena mayat Kasim sudah tidak ada lagi. "Tak salah lagi, pasti ada orang lain yang tahu tentang rahasia gua ini, ayo kita cari dan bunuh dia!" kata sang kepala penyamun. Merekapun mulai berkeliling pelosok kota. Ketika bertemu dengan seorang tabib, mereka bertanya,"Apakah akhir-akhir ini ada orang yang kaya mendadak ?". "Akulah orang itu, karena setelah menjahit luka mayat, aku menjadi orang kaya". "Apa! Mayat! Siapa yang memintamu melakukan itu?" Tanya mereka. "Tolong antarkan kami padanya!". Setelah menerima uang dari penyamun, si tabib lalu mengantar mereka ke rumah Alibaba. Si penyamun segera memberi tanda silang dipintu rumah Alibaba. "Aku akan melaporkan pada ketua, dan nanti malam kami akan datang untuk membunuhnya," kata si penyamun. Tetangga Alibaba, Morijana yang baru pulang berbelanja melihat dan mendengar percakapan para penyamun.

Malam harinya, Alibaba didatangi seorang penyamun yang menyamar menjadi seorang pedagang minyak yang kemalaman dan memohon untuk menginap sehari dirumahnya. Alibaba yang baik hati mempersilakan tamunya masuk dan memperlakukannya dengan baik. Ia tidak mengenali wajah si kepala penyamun. Morijana, tetangga Alibaba yang sedang berada diluar rumah, melihat dan mengenali wajah penyamun tersebut. Ia berpikir keras bagaimana cara untuk memberitahu Alibaba. Akhirnya ia mempunyai ide, dengan menyamar sebagai seorang penari. Ia pergi kerumah Alibaba untuk menari. Ketika Alibaba, istri dan tamunya sedang menonton tarian, Morijana dengan cepat melemparkan pedang kecil yang sengaja diselipkannya dibajunya ke dada tamu Alibaba.

Alibaba dan istrinya sangat terkejut, sebelum Alibaba bertanya, Morijana membuka samarannya dan segera menceritakan semua yang telah dilihat dan didengarnya. "Morijana, engkau telah menyelamatkan nyawa kami, terima kasih". Setelah semuanya berlalu, Alibaba membagikan uang peninggalan para penyamun kepada orang-orang miskin dan yang sangat memerlukannya.

Rabu, 02 Februari 2011

Ketika Pintu Taubat Masih Terbuka Lebar


"Perbuatan orang yang bertaubat ada empat:
Pertama, menjaga lidahnya dari ghibah, dusta, hasad dan kesia-sian.
Kedua, menjauhi teman jahat.
Ketiga, ketika dosa disebut dihadapannya, dia malu kepada Allah swt.
Keempat, mempersiapkan diri untuk kematian.Tanda kesiapan itu adalah dia tidak pernah merasa tidak ridha kepada Allah swt dalam keadaan apapun"
(Hatim Al Asham)

" Demi Allah, Sesungguhnya saya beristighfar dan bertaubat kepada Allah SWT dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali" (H.R. Bukhari) demikian sabda Rasulullah saw. Dalam riwayat lain beliau bersabda: " Wahai manusia, bertaubatlah pada Allah. Sesungguhnya saya bertaubat kepada-Nya dalam sehari seratus kali" ( H.R. Muslim).

Subhanallah.Rasulullah saw seorang hamba yang berakhlaq mulia. Sebagai kekasih Allah, beliau seorang manusia yang ma'sum (bersih dari dosa), diampuni dosa-dosanya yang terdahulu dan akan datang oleh Allah SWT. Seorang hamba yang telah mendapat jaminan surga oleh Allah SWT pada kehidupan hari Akhir kelak. Walaupun demikian, Rasulullah saw tetap beristighfar (memohon ampun) dan bertaubat kepada Allah SWT setiap harinya lebih tujuh puluh kali. Kedua hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah saw mengajarkan dan mendorong ummatnya untuk selalu beristighfar dan bertaubat seperti dirinya, karena dengan rutinitas beristighfar dan bertaubat dengan ini akan menghapus dosa-dosa yang kadangkala dilakukan oleh seorang manusia tanpa disadari. Kemudian, hadits tersebut tidak bermaksud jumlah tertentu dalam istighfar, namun yang ditegaskan adalah kualiti dan kuantitas istighfar, sesuai dengan kemampuan masing-masing kita. (Sila baca Kitab "Nuzhatul Muttaqin, syarh Riyadlus Shalihin", jilid 1,bab Taubat, hal 31).

Kita sebagai hamba-Nya yang dhaif, senantiasa hidup berlumuran dosa dan kesalahan, baik disengaja atau tidak. Selain itu kita belum mendapat jaminan masuk surga dari Allah SWT. Namun, sudah berapa sering kita beristighfar?? Sejauh mana kita bertaubat kepada Allah?? Apa yang telah kita perbuat setiap harinya?? Sadarkah kita berapa banyak dosa yang kita pikul setiap harinya?? Pertanyaan semacam ini perlu, dalam rangka meningkatkan kualitas iman dan mendekatkan diri kepada Allah swt ini Kadangkala kita disibukan dengan kemewahan dunia hingga kita lupa dengan kualitas iman dan amal kita. Lupa akan maksiat yang senantiasa kita lakukan. Sudah saatnya kita berkaca kembali, menjadikan muhasabah sebagai momementum untuk menyadari dan mendeteksi kondisi yang "memprihatikan" ini.. Bukan suatu hal mustahil, semakin umur kita dipanjangkan semakin banyak pula kesalahan dan dosa yang melumuri tubah kita. Na'u zubillahi min zalik.

Renungkanlah , apa saja nikmat dan karunia Allah swt untuk kita, sejak kehidupan ini berlaku bagi kita, saat kita lahir dari kandungan sebagai bayi hingga jarak puluhan tahun berikutnya yang mengantarkan kehidupan kita saat ini, detik ini. Sesungguhnya kasih sayang Allah swt itu sama sekali tidak dapat kita hitung bahkan tak mungkin juga tertampung dalam memori pikiran kita.

Allah swt memang Maha Kasih saudaraku.
Di antara bukti kasih sayang-Nya yang paling agung untuk kita adalah, Dia tetap memberi peluang kepada kita untuk bertaubat dan kembali kepada-Nya, hingga saat ini. Tak peduli berapa lebarnya jarak yang memisahkan kita lakukan lewat kekeliruan dan dosa, kepada-Nya. Allah swt ternyata tetap saja memberi kesempatan buat kita untuk menoleh dan kembali kepada-Nya. Tak peduli bagaimanapun legamnya hati kita oleh dosa kemaksiatan yang terus-menerus kita lakukan. Allah swt Yang Maha Kasih itu ternyata tetap memberi kita kesempatan untuk memperbaiki diri dan kembali mendekat kepada-Nya.

Perhatikanlah, Sesungguhnya kesempatan menoleh dan kembali kepada Allah swt, serta kesempatan untuk memperbaiki diri dan kembali mendekat kepada-Nya itu, ada pada kesempatan hidup yang Allah berikan pada kita hingga saat ini. Karena rentang kehidupan yang kita jalani, sebenarnya adalah rentang pintu taubat yang tak mungkin tertutup kecuali hingga kehidupan kita berakhir. Disaat kita merasakan kerongkongan tercekik menghembuskan nafas terakhir, di sanalah pintu kesempatan kembali kita sudah tertutup. "Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta'ala meneria taubat seorang hamba, selama ruhnya belum sampai di kerongkongannya," ( H.R.Tirmizi) demikian sabda Rasulullah saw tentang ke Maha Rahmah dan Pengampunnya Allah swt.

Karena di antara gangguan dan bisikan syaitan kepada orang yang bertaubat adalah, bisikan yang membesar-besarkan prilaku dosa dan kemaksiatan yang telah dilakukan hingga seseorang merasa lunglai dan percuma bertaubat. Sementara di sisi yang lain, syaitan juga menghembuskan bisikan untuk mengecil-ngecilkan dan menyepelekan dosa dan kemaksiatan, sehingga seseorang terus-menerus melakukan dosa dan kemaksiatan itu.

Dalam Fiqih syaitan, suasana putus asa yang memalingkan seseorang dari taubat, itu lebih utama daripada mendorong orang untuk melakukan dosa dan kemaksiatan. Apa sebabnya? Karena pelaku dosa dan kemaksiatan bisa saja bertaubat dan taubatnya diterima Allah swt. Tapi orang yang putus asa dari rahmat Allah dan tidak mau bertaubat, akan semakin jauh untuk kepada Allah.

Mungkin hal inilah yang menjadikan sebagian ulama berpendapat, tentang keutamaan seorang berilmu yang beribadah kepada Allah dengan ilmu dan pemahamannya, meski amal ibadahnya tidak terlalu banyak. Dibandingkan dengan seribu orang ahli ibadah yang menjalankan amal ibadah begitu banyak, tapi miskin ilmu. Pelaku ibadah yang berilmu, akan bersikap lebih keras dan lebih waspada terhadap gangguan syaitan, ketimbang mereka yang melakukan ibadah, tanpa ilmu. Itu karena, gangguan syaitan biasa mengelabui ahli ibadah yang lugu dari tipu syaitan.

Selain kesempatan hidup yang berarti keterbukaan pintu untuk bertaubat dan kembali kepada Allah, ada banyak karunia Allah yang luar biasa. Misalnya, rizki yang didatangkan Allah ketika kita melakukan ketaatan. Ternyata Allah swt segera menunjukkan kasih sayang-Nya terhadap orang-orang yang melakukan amal-amal taat. Coba perhatikan apa yang disebutkan dalam hadits, "Sesungguhnya seorang hamba akan terhalang dari rizki, akibat dosa yang ia lakukan". Ini artinya, ketaatan akan mendekatkan seseorang pada rizkinya. Perhatikan juga hadits Rasulullah saw yang lain, "Kemaksiatan itu titik noda dalam hati dan hitam dalam wajah. Sedangkan kebaikan itu cahaya di hati, kelapangan di dada dan cahaya pada wajah". Alhmdulillah.Sungguh Maha Rahmah dan pemurahnya Allah swt.

Jika kita termasuk orang-orang yang sedang bertaubat dan kembali kepada Allah swt, waspadalah. Karena saat-saat itulah syaitan lebih meningkatkan intaiannya untuk masuk melalui sisi-sisi lengah dan celah kelemahan kita. Syaitan berupaya menghiasi hati kita untuk menjadi senang dan bangga dengan taubat, namun kemudian kita terpedaya menganggap bahwa pertarungan dengan nafsu sudah selesai. Kondisi seperti ini sangat berbahaya, karena bisa jadi tipuan seperti itu sulit diditeksi kecuali oleh mereka yang tajam mata batinnya karena keimanan. Dialah yang bisa membedakan, antara taubat yang sejati dan taubat palsu.

Agar taubat kita menjadi taubat sejati (taubat nasuha) dan diterima Allah swt, maka harus memenuhi kriteria tertentu. Imam Nawawi rahimahullah ta'ala menukilkan perkataan para ulama: " Taubat itu wajib bagi pelaku dosa. Jika dosa itu berkaitan dengan Allah swt, maka taubat yang sejati itu harus memenuhi 3 kriteria: Pertama, menghentikan maksiatnya. Kedua, menyesali perbuatan tersebut. Ketiga, berazam untuk tidak mengulanginya selamanya. Jika tidak terpenuhi ketiga syarat tersebut maka taubatnya itu tidak sah. Adapun dosa yang berkaitan dengan manusia lainnya syarat taubatnya ada 4, yaitu 3 syarat diatas ditambah dengan meminta maaf pada orangnya" (Sila rujuk Kitab "Riyadlus shalihin", bab Taubat)

Boleh saja kita yang merasa suka cita dan gembira karena telah kembali kepada Allah swt. Sebagaimana Allah swt juga sangat suka cita menerima hamba-Nya yang kembali kepada-Nya, sebagaimana hadits Rasulullah saw "Demi Allah, sesungguhnya Allah lebih gembira ketika hamba-Nya bertaubat kepada-Nya daripada seseorang diantara kamu yang kehilangan unta dipadang tandus, lalu ia menemukan kembali untanya tersebut" ( H.R. Bukhari). Tapi, berhati-hatilah, dari kesenangan dan kegembiraan yang bisa menipu dan menjadikan kita tenang serta yakin dengan nasib di akhirat lalu merasa aman dari azab Allah swt.

Waspadalah seperti kewaspadaan Abu Bakar Ash- Shiddiq radhiallahu anhu: "Demi Allah, jika salah satu kakiku telah menjejak surga, sedang yang lain masih berada di luar surga, maka selama itu aku tidak akan merasa aman dari makar Allah swt".

Pertarungan dan kewaspadaan ini belum selesai, sampai kedua kaki kita menginjak surga. Dan kitapun tidak tau apakah kelak akan masuk surga atau tidak. Beristighfar dan bertaubatlah segera..! Jangan menunda taubat dan amal. Karena kitapun tidak tahu kapan maut menjemput kita, dimana pada saat itu pintu taubat telah ditutup. Maka gunakanlah pintu taubat selagi masih ada kesempatan, selama masih terbuka lebar bagi hamba-Nya yang ingin kembali kepada-Nya.
Ingatlah pesan Rasululah: "Gunakan 5 kesemptan sebelum datang 5 kesempatan lainnya.

Hadits-hadits Tentang Taubat

Saya mengajak pembaca merenungi sabda Rasul SAW, melihat-lihat keindahan dan kemudahan Islam, sehingga kita tidak akan lagi mendengar kekerasan, kegarangan, kesusahan, maupun kepelikan yang sering disematkan kepada ajaran Islam.

Rasul SAW bersabda, "Wahai para manusia, minta ampunlah pada Tuhan kalian dan bertaubatlah, maka aku meminta ampun dan bertaubat pada Allah seratus kali setiap hari. " (HR. Bukhari dan Muslim).


Rasul SAW meminta ampun dan bertaubat setiap hari seratus kali. Sedang kita selama sepuluh tahun tidak pernah bertaubat, sama sekali Rasul yang ma'shum, terjaga dari maksiat, bertaubat seratus kali setiap hari? Bertaubat dari apa? Derajat Rasul telah tinggi di hadapan Allah, dan ia ingin mengangkat derajatnya dengan cinta dan ma'rifat Allah. Apakah kita ingat, kapan terakhir kali kita bertaubat? Sudahkah kita mengulangi taubat itu lagi atau belum?


Para sahabat berkata, "Kami menghitung dalam setiap satu pertemuan Rasulullah SAW mengucapkan lebih dari seratus kali,


“Ya Rabbi, ampunilah aku, dan terimalah taubatku. Sesungguhnya, Engkau, adalah Maha Penerima taubat, lagi Maha Penyayang'." (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad).


Bayangkan, Rasul diam di tengah para sahabat, lalu meminta ampun. Mengulangi dan akhirnya menyudahi dalam hitungan lebih dari seratus kali. Maka, bertaubat dan mintalah ampun kalian pada Allah SWT. Tidakkah kita melihat Rasul yang lebih dari tujuh puluh kali beristighfar dalam satu pertemuan. Lalu, bagaimana dengan kita?


Nabi SAW bersabda, “Sungguh, Allah membentangkan tangan-Nya setiap malam agar orang yang berbuat kejelekan di siang hari mau bertaubat. Dan Dia juga membentangkan tangan-Nya di siang hari agar orang yang berbuat kejelekan di malam hari mau bertaubat." (HR. Muslim dan Imam Ahmad).


Dalam perkara rezeki, Allah tidak membentangkan kedua tangan¬-Nya seperti ini. Satu-satunya perkara yang Allah SWT membentangkan kedua tangan-Nya untuk menerimanya adalah taubat. Dengan ini, apakah kita tetap enggan bertaubat? Tidakkah kita merasa malu? Sepuluh tahun, mau bertaubat Padahal Allah membentangkan tangan-Nya untuk menerima taubat setiap malam dan siang hari.


Nabi SAW bersabda, "Rabb kita turun setiap sepertiga malam terakhir, lalu berfirman, ‘Siapa yang berdoa pada-Ku, untuk Aku kabulkan permohonannya?; siapa yang meminta pada-Ku, untuk Aku penuhi permintaannya?; dan siapa yang mohon ampun pada-Ku, untuk Aku ampuni dosanya?. " (HR. Bukhari dan Muslim)


Selama 30 atau 40 tahun kita mendengkur setiap malam. Bahkan, ada vang selama hidup tidak mau bangun dan berkata, "Aku bertaubat dari dosaku selama dua puluh tahun yang lalu." Di saat Allah sedang turun ke bumi, dan berkata, ‘Adakah orang yang bertaubat? Siapakah yang bertaubat, untuk Aku ampuni?."


Saudaraku, apakah kita tahu, siapa Rabb kita? Apakah kita rnerasakan kebesaran, kasih sayang dan ma' rifat Allah dengan hamba¬-Nya?


Dalam sebuah hadits Qudsy dikatakan, "Wahai Bani Adam, kalian tidaklah (sungguh-sungguh) berdoa dan mengharap pada-Ku, Aku akan mengampuni dosa-dosa kalian dan Aku tidak peduli. Wahai Bani Adam, jikalau dosa kalian mencapai awan di langit, lalu kalian minta ampun pada-Ku, Aku akan mengampuni kalian, dan Aku tidak peduli. Wahai Bani Adam, jikalau kalian datang pada-Ku dengan dosa sebesar ukuran bumi, tetapi kemudian kalian mendatangiku dengan tanpa berbuat syirik pada-Ku, maka Aku akan datang padamu dengan ampunan sebesar itu pula." (HR. At-¬Tirmidzi).


Mengapa kita tetap enggan bertaubat dengan semua ini? Lalu kapan kita akan bertaubat? Apa yang ingin kita dengar untuk bertaubat? Apakah kita ingin ditimpa adzab yang pedih untuk bertaubat? Apakah kita tidak mau bertaubat dengan keadaan sehat lagi selamat?


Ketika Iblis menentang Allah, tidak bersujud pada Adam AS ia berkata, "Ya Rabbku, demi kemuliaan-Mu dan keagungan-Mu, aku akan sesatkan mereka selama nyawa mereka masih di badan." Allah menjawab, "Demi kemuliaan-Ku dan keagungan-Ku, Aku akan ampuni mereka selama mereka minta ampun pada-Ku." (HR. Imam Ahmad)


Apalagi yang kita inginkan? Apa yang kita ingin dengarkan? Ataukah kita ingin mendengar cinta dan kasih sayang Allah?


Rasul bersabda, “Allah lebih gembira menerima taubat hamba-Nya dari pada hamba yang berjalan di padang pasir, lalu ia kehilangan kendaraannya yang memuat makanan dan minumannya. Ia menyangka akan mati, lalu ia menggali lubang, dan tidur di dalamnya sambil berkata, Aku akan tidur di lubang ini sampai kematian datang menjemput.' Tiba-tiba kendaraan dan makanan yang ia bawa berada di atasnya. ---Adakah kebahagian yang lebih besar dari peristiwa itu? Kebahagian orang yang akan mati, lalu selamat?--- sampai-sampai ia berkata, 'Ya Allah Kau hambaku, dan aku tuhan-Mu.' (la sampai salah bicara karena bahagia.) Maka Allah lebih gembira menerima taubat hamba-Nya dari pada kegembiraan hamba tadi." (HR. Bukhari dan Muslim)


Laa ilaha illallaah, kita begitu lalai pada Allah. Tidakkah kita melihat besarnya karunia-Nya? Dan kita tetap enggan bertaubat setelah mendengar semua itu? Begitu keraskah hati kita?


Di zaman Bani Israil, ada seorang yang melakukan dosa selama hidupnya. Ketika hampir mati, ia mengumpulkan anak-anaknya seraya berkata, "Wahai anakku, tiada seorang pun di dunia ini yang melakukan dosa sepertiku. jika aku mati, bakarlah bangkaiku, nyalakan api, lalu lemparkan aku ke dalamnya. Bila sudah jadi abu, hancurkanlah, dan tebarkan di puncak-¬puncak gunung. Maka sekiranya Tuhanku kuasa atasku, Ia akan menyiksaku dengan siksa yang tak seorangpun disiksa dengannya."


Ketika mati, ia pun dibakar, dan abunya dihancurkan. Lalu, mereka menunggu hari bertiupnya badai. Setelah badai tiba, mereka sebarkan abu itu di atas gunung. Setelah itu, Allah berfirman, "Jadilah," maka jadilah. Lalu Allah berfirman, "Apa yang menyebabkan kamu melakukan ini?" la menjawab, "Aku takut pada-Mu dan dosaku." Allah berfirman, "Dengan takutmu pada-Ku, Aku telah mengampunimu. Aku bersaksi denganmu, wahai mlalaikat, bahwa Aku telah mengampuninya dan memasukkannya ke surga." (HR. Bukhari dan Muslim).


Ada pula atsar yang mengisahkan seseorang dengan ketaatannya selama dua puluh tahun. Setelah itu ia pun berbuat maksiat selama dua puluh tahun juga. Lalu ia berkata, "Ya Tuhanku, aku taat padamu selama dua puluh tahun, lalu bermaksiat selama dua puluh tahun... Akankah aku Kau terima jika aku bertaubat?" Ia bergumam sendiri, "Tidak mungkin setelah semua yang aku perbuat." Suatu hari ia tertidur. la pun mendengar suara, "Kau telah berbuat taat pada Kami, sehingga Kami pun mendekatimu. Lalu, Kau pun bermaksiat hingga Kami pun melupakanmu. Maka jika kau kembali pada Kami, Kami pun akan menerimamu."


Saudariku, kau telah membuka jilbabmu, dan kau merasa telah terlanjur berdosa. Kau telah jauh dari Allah. Tidak, pintu taubat masih terbuka! Kembalilah kau pada Tuhanmu!


Di zaman Nabi Musa AS terjadi masa paceklik. Manusia dan hewan kehausan, dan hampir mati, karena sedikitnya persediaan air. Mereka lelah, hingga berkata, "Wahai Musa, serulah Allah, dan mintalah agar hujan diturunkan!" Nabi Musa pun mengumpulkan mereka di satu tanah lapang, lalu ia berdoa pada Allah. Mereka pun mengamini doa beliau, tetapi hujan tak kunjung turun. Akhirnya, ia pun berkata, "Ya Tuhanku, mengapa Kau tidak mau menurunkan hujan, padahal kami telah berdoa dan menghinakan diri pada-Mu?"


Allah menjawab, "Wahai Musa, di antara kalian ada seorang yang berbuat maksiat selama empat puluh tahun, ia belum bertaubat. Maka ia menghalangi terkabulnya doa kalian." Lalu ia bertanya, "Lalu apa yang harus kami lakukan?" Allah menjawab, "Keluarkanlah orang yang berbuat maksiat itu! Jika orang itu keluar dari barisan kalian, hujan akan turun." Nabi Musa pun berkata, "Aku minta kalian bersumpah pada Allah. Aku bersumpah pada Allah, di antara kita ada yang berbuat maksiat selama empat puluh tahun, hingga hujan tidak turun-turun, maka hendaklah ia mau keluar dari barisan."


Orang yang berbuat maksiat itu menoleh ke kanan dan kiri sekiranya ada yang keluar selain dia. Tetapi tidak ada seorang pun yang keluar. Tahulah ia kalau yang dimaksud adalah dirinya. Lalu ia berkata, "Ya Tuhanku, aku telah berbuat maksiat selama empat puluh tahun, dan Kau telah menutupinya. Ya Tuhanku, jika aku keluar, maka namaku akan tercemar. Dan jika aku tetap tinggal, maka hujan tidak akan turun. Ya Tuhanku, aku sekarang bertaubat padamu, aku menyesal, aku kembali pada-Mu, maka ampunilah aku, dan tutupilah kejelekanku!"


Hujan pun turun, akan tetapi orang yang berbuat maksiat itu tidak keluar dari barisan. Akhirnya, Nabi Musa bertanya, "Ya Tuhanku, hujan telah turun, dan orang itu belum keluar?" Allah menjawab, "Wahai Musa, hujan telah turun dengan taubat hamba-Ku yang telah bermaksiat selama empat puluh tahun."


Nabi Musa bertanya lagi, "Ya Tuhanku, tunjukkan orang itu padaku agar aku bergembira dengannya." Allah menjawab, "Wahai Musa, ia telah berbuat maksiat pada-Ku selama empat puluh tahun, dan Aku telah menutupinya. Lalu apakah Aku akan membukanya padamu, mencemarkan namanya, padahal ia telah kembali pada-Ku?".


Saudaraku, bertaubatlah! Siapakah yang mendengar perkataan ini, dan enggan bertaubat? Sekali lagi bertaubatlah!

Tipuan Syetan Kepada Orang yang Bertaubat

Sesungguhnya syetan tidak suka jika manusia mendapat cinta dan ridla Rabb-nya. Dia berusaha menjerumuskan mereka ke dalam kemaksiatan, tindakan keji, dan berkata tentang Allah tanpa ilmu. Harapannya, agar mereka menjadi temannya di neraka yang menyala-nyala.

Begitu juga terhadap orang yang sudah terjerumus ke dalam lembah kemaksiatan dan ingin keluar darinya, Syetan tidak pernah tinggal diam. Dia menggunakan berbagai cara tipu muslihat dan talbis agar mereka tetap dalam lembah maksiat. Terkadang syetan menggoda dengan menanamkan perasaan bahwa dirinya sangat kotor, dosanya bertumpuk-tumpuk dan tak terampuni. Sesekali juga dengan membisikkan tipuan bahwa Allah Mahapenerima taubat dan Mahapengampun, kapan saja bertaubat Allah senantiasa membuka pintu-Nya. Akhirnya ia memandang mudah masalah taubat, menggampangkannya, dan menunda-nundanya sehinga ia tak pernah bertaubat karena ajal dahulu menjemput. Berikut ini rincian godaan syetan agar menusia jauh dari taubat:

1. Tazyin, yaitu syetan menghiasi (menjadikan indah) perbuatan maksiat yang dilakukannya, menjadikannya cinta kepada maksiat itu, menjauhkannya dari ketaatan dan menampakkan susah dan beratnya taubat.

2. Talbis, yaitu syetan menipu manusia dengan menjadikan yang haram seperti halal, yang mungkar terlihat ma'ruf, batil seolah hak sehingga ia tidak akan keluar dari perbuatan tersebut.

3. Taswif, yaitu menunda-nunda taubat sehingga maut menjemput. Cara mengobatinya dengan banyak mengingat kematian dan bencana. Misalnya: banyak anak-anak yang lebih dulu mati sebelum yang tua, yang sehat sebelum yang sakit.

Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam :

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اَللَّذَّاتِ: اَلْمَوْتِ

"Perbanyaklah mengingat sesuatu yang menghilangkan kenikmatan, yaitu kematian." (HR. At-Tirmidzi no. 2307; an Nasai 4/4; dan dishahihkan oleh Ibnu hibban)

. . syetan menghiasi (menjadikan indah) perbuatan maksiat yang dilakukannya, menjadikannya cinta kepada maksiat itu, . .

4. Meremehkan maksiat. Syetan menggodanya dengan mengatakan; "dosa-dosamu masih sedikit dibandingkan dosa orang lain. Allah Maha Pengampun dan Penyanyang. Dia tidak akan menyiksamu dengan dosa ini."

Ibnu Mas'ud radliyallah 'anhu berkata:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ فِي أَصْلِ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ وَقَعَ عَلَى أَنْفِهِ قَالَ بِهِ هَكَذَا فَطَارَ

"Sesungguhnya seorang mukmin dalam melihat dosanya, seolah-olah ia berada di bawah gunung, yang takut akan menimpanya. Dan sungguh seorang fajir melihat dosanya seperti lalt yang hinggap di hidungnya, lalu ia berkata seperti ini, maka lalat itupun terbang." (HR. Al-Bukhari no. 5833; al Tirmidzi no. 2421; Ahmad no. 3446)

Maknanya, dia menganggap remeh dosanya. Ia yakin dosanya tidak akan mendatangkan bahaya yang besar, sebagaimana ia meremehkan lalat. Sehingga ia merasa mudah menghilangkannya.

"Dosa-dosamu masih sedikit dibandingkan dosa orang lain. Allah Maha Pengampun dan Penyanyang. Dia tidak akan menyiksamu dengan dosa ini,"

godaan syetan.

5. Merasa sulit istiqamah dalam ketaatan setelah taubat. Sesungguhnya taubat menuntut keistiqamahan terhadap ketaatan, sedangkan istiqamah terasa amat berat bagi jiwa. Ketika rasa berat muncul, syetan membisikkan agar dia berputus asa, lalu meninggalkan ketaatan dan kembali melakukan kemaksiatan-kemaksiatan.

6. Berputus asa, yaitu dengan menanamkan perasaan dosanya sudah terlalu banyak, sehingga rasa takutnya menutupi rasa raja' (harap)-nya kepada ampunan dan rahmat Allah. Lalu syetan masuk dari pintu ini dan membisikkan bahwa dosanya tidak akan diampuni, taubatnya tidak akan diterima karena banyaknya dosa yang telah ia lakukan. Pada akhirnya, ia berputus asa dari Rahmat Allah. Dan rasa putus asa ini adalah dosa tersendiri yang menambah dosa yang telah lalu.

Cara mengatasinya, harus selalu mengingat luasnya rahmat Allah dan besar ampunan-Nya. Allah Ta'ala berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

"Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar: 53)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, Allah Ta'ala berfirman:

يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

"Hai anak Adam, sungguh selama engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, Aku akan mengampunimu sebanyak apapun dosamu dan aku tidak perduli. Hai anak Adam, kalau seandainya dosamu mencapai setinggi langit, kemudian engkau beristighfar kepada-Ku, akan aku ampuni dosamu dan aku tidak perduli. Hai anak Adam, sungguh kalau kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam kondisi tidak melakkan syirik, pasti aku akan mendatangkan ampunan sebanyak itu juga." (HR. At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).

Lalu syetan masuk dari pintu ini dan membisikkan bahwa dosanya tidak akan diampuni, taubatnya tidak akan diterima karena banyaknya dosa yang telah ia lakukan.

7. Tertipu dengan banyaknya pelaku maksiat (berserikat dengan pelaku kemaksiatan). Seperti orang yang bersama-sama melakukan perampokan, pencurian atau pembunuhan, lalu dihukum bersama-sama juga. Ia merasa dosa perbuatan itu akan dibagi dengan kelompoknya sehingga masing-masing mendapatkan bagian dosa yang sedikit.

Terkadang karena dosa ini dilakukan bersama-sama sehingga menimbulkan rasa bangga dengan dosa tersebut. Seperti korupsi bareng, mencuri bareng, menjarah bareng atau berzina bareng. Orang yang berbangga dengan perbuatan dosa sulit diharapkan bertaubat dan kesalahnnya tidak akan diampuni.

Orang yang berbangga dengan perbuatan dosa sulit diharapkan bertaubat dan kesalahnnya tidak akan diampuni.

Tanda taubat yang benar

1. Setelah bertaubat ia menjadi lebih baik.

2. Senantiasa merasa takut terhadap adzab atas maksiatnya. Sehingga diharapkan ketika ia wafat, datanglah Malaikat dan mengatakan:

أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

"Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang Telah dijanjikan Allah kepadamu." (QS. Fushilat: 30)

3. Sangat menyesali perbuatan maksiat yang dilakukannya dan takut terhadap akibat buruk yang ditimbulkannya.

Hal-hal yang memotifasi taubat

1. Adanya perintah taubat dan anjuran menyegerakannya.

Firman Allah Ta'ala:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa." (QS. Ali Imran: 133)

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung." (QS. An-Nuur : 31)

Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Allah Ta'ala membuka tangan-Nya pada malam hari untuk memberi taubat bagi pelaku dosa di siang hari, dan membuka tangan-Nya pada malam hari untuk memberi taubat bagi pelaku dosa di malam hari, sehingga matahari terbit dari arah barat." (HR. Ahmad)

2. Mengetahui hubungannya dengan zaman

a. Waktu adalah kehidupan

Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata :

يَا ابْنَ آدَمَ ، إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ مَجْمُوْعَةٌ ، كُلَّمَا مَضَى يَوْمٌ مَضَى بَعْضُكَ إِنَّمَا أَنْتَ بَيْنَ رَاحِلَتَيْنِ تُنْقِلاَنِكَ ، يُنْقِلُكَ اللَّيْلُ إِلَى النَّهَارِ وَيُنْقِلُكَ النَّهَارُ إِلَى اللَّيْلِ، حَتَّى يُسْلِمَانِكَ إِلَى الآخِرَةِ

"Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau bagaikan kumpulan hari. Setiap berlalu satu hari berarti berlalu (hilang) pula sebagian (umur)-mu. Sesungguhnya kamu berada di antara dua tunggangan yang selalu memindahkanmu. Malam memindahkanmu ke siang dan siang memindahkanmu ke malam sehingga menyerahkanmu kepada akhirat." (al Hilyah: 2/148)

Daud Ath Tha’i rahimahullah mengatakan, "Sesungguhnya malam dan siang adalah tempat persinggahan manusia, yang disinggahinya bergantian sampai dia berada pada akhir perjalanannya. Jika engkau mampu menyediakan bekal di setiap tempat persinggahanmu, maka lakukanlah. Berakhirnya safar boleh jadi dalam waktu dekat. Namun, perkara akhirat lebih segera daripada itu. Persiapkanlah perjalananmu (menuju negeri akhirat). Tunaikanlah kewajiban yang patut engkau tunaikan. Karena mungkin saja, perjalananmu akan berakhir dengan tiba-tiba." (al Hilyah: 7/348)

b. Pentingnya memanfaatkan waktu

Dari Ibnu Abbas radliyallah 'anhu, bahwa Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberi nasehat kepada seseorang:

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْل خَمْس ، شَبَابك قَبْل هَرَمك ، وَصِحَّتك قَبْل سَقَمك ، وَغِنَاك قَبْل فَقْرك ، وَفَرَاغك قَبْل شُغْلك ، وَحَيَاتك قَبْل مَوْتك

"Perhatikan lima perkara sebelum datang lima perkara: waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, waktu luangmu sebelum datang waktu sempit (sibuk)mu, kayamu sebelum datang waktu miskinmu dan hidupmu sebelum datang waktu wafatmu." (HR. Al Hakim dalam shahih-nya secara marfu' dan diriwayatkan juga oleh Abdullah bin al Mubarak dalam al Zuhd dengan sanad shahih)

c. Waktu yang berlalu tidak akan kembali

Yaitu dengan melakukan muhasabah diri dari waktu yang sudah dihabiskannya. Caranya dengan mengingat kesalahan dan dosa-dosanya yang telah lalu, supaya menimbulkan rasa tunduk dan hina di hadapan Allah 'Azza wa Jalla. Sehingga waktunya yang akan datang tidak seperti waktunya yang lalu.

Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau bagaikan kumpulan hari. Setiap berlalu satu hari berarti berlalu (hilang) pula sebagian (umur)-mu. . .

3. Malu kepada Allah.

Yaitu dengan menyadari bahwa Allah telah melimpahkan kepadanya nikmat yang banyak, yang dengan itu ia malah bermaksiat dan tidak memenuhi hak-hak-Nya. Inilah yang terkandung dalam doa sayyidul istighfar.

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ

"Ya Allah, Engkau adalah Tuhan-ku, tiada sesembahan yang hak kecuali Engkau, Yang telah menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku berada di atas ikatan dan janji-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan buruk yang kuperbuat. Aku mengakui akan nikmat-Mu kepadaku, dan aku mengakui (banyaknya) dosaku terhadap-Mu, maka ampunilah aku, sesungguhnya tiada yang bisa mengampuni dosa kecuali Engkau." (HR. Al-Bukhari no. 6306)

4. Mengingat kematian dan masa akan datang yang belum tentu kita menemuinya

Ibnu Umar rahimahullah berkata:

إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ اَلصَّبَاحَ, وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ اَلْمَسَاءَ, وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِسَقَمِك, وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ.

"Jika engkau berada di sore hari janganlah menunggu (berharap) pagi hari, dan jika engkau berada di pagi hari janganlah menunggu (berharap) sore hari." (HR. Al-Bukhari no. 6416)

5. Mengingat kondisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Beliau adalah manusia yang telah diampuni dosa-dosanya, baik yang lalu maupun yang akan datang. Tapi, beliau senantiasa beristighfar kepada Allah Ta'ala. Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ

"Wahai manusia bertaubatlah kepada Allah dan meminta ampun kepada-Nya, sungguh aku sehari bertaubat / meminta ampun kepada-Nya sebanyak seratus kali." (HR. Muslim, no. 2702)

Dalam sabdanya yang lain:

وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

"Demi Allah, sungguh aku bertaubat dan beristighfar (meminta ampun) kepada Allah dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali." (HR. Al-Bukhari, no. 6307)

6. Berkawan atau bergaul dengan orang-orang baik / shalih.

Sesungguhnya seseorang berada di atas agama kawan dekatnya. Umar ibnul Khaththab rahimahullah menasehatkan: "Duduklah (bergaullah) bersama orang-orang yang suka taubat, sungguh mereka adalah orang yang lembut hatinya."

Muhammad bin Ka'ab Al-Quradli berkata:

اَلتَّوْبَةُ يَجْمَعُهَا أَرْبَعَةُ أَشْيَاءٍ : الاِسْتِغْفَارُ بِاللِّسَانِ، وَالإِقْلاَعُ بِالأَبْدَانِ، وَإِضْمَارُ تَرْكِ الْعُوْدِ بِالْجِنَانِ، وَمُهَاجَرَةُ سَيِّءِ الْإِخْوَانِ

"Taubat terkumpul dalam empat perkara: istighfar dengan lisan, meninggalkan (perbuatan itu) dengan badannya, dan bertekad tidak akan mengulanginya dengan hati serta menjauhi kawan yang buruk."

7. Meniti jalan salafush shalih, seperti jalan taubatnya Maiz bin Malik dan wanita Ghamidiyah serta yang lainnya.

Balasan Bagi Yang Berbuat Kebaikkan


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Sesungguh nya Allah menyayangi hamba-hamba-Nya yang penyayang". (HR. al-Bukhari).
Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula), barangsiapa menyayangi makhluq Allah maka Allah akan menyayanginya. Sebagai mana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
"Orang-orang yang penyayang, maka Allah akan menyayangi mereka. Sayangilah penduduk bumi maka penduduk langit akan menyayangi kalian". (HR. At-Tirmidzi).
Balasan itu sesuai dengan jenis amal perbuatan yang dilakukan. Allah subhanahu wata’ala akan memperlakukan hamba-Nya sebagaimana perlakuan hamba tersebut terhadap hamba-hamba Allah. Allah subhanahu wata’ala berfirman yang artinya,
"Jikalau kalian memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS. At-Taghabun:14).
Dan juga firman Allah subhanahu wata’ala dalam surat An-Nur ayat 22 yang artinya,
"Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?".
Bersegeralah untuk meringankan kesulitan-kesulitan orang lain agar Allah meringankan kesulitan dari dirimu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Barangsiapa menghilangkan satu kesulitan dari seorang muslim maka Allah akan membalasnya dengan menghilangkan satu kesulitan dari kesulitan-keslitan yang ada pada hari Kiamat". (HR. al-Bukhari).
Bantulah manusia memenuhi kebutuhan hidupnya, maka dengan cara itu engkau akan mendapatkan pertolongan dari Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Allah selalu menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya".
Juga sabda beliau,
"Barangsiapa berada di dalam kebutuhan saudaranya maka Allah berada di dalam kebutuhannya". (HR. Imam Muslim).
Jadilah engkau seorang hamba Allah yang menghilangkan kesukaran orang-orang yang tertimpa kesulitan niscaya Allah akan memberi kemudahan kepada kamu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Barangsiapa yang memudahkan orang yang kesulitan maka Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat". (HR. Muslim).
Bersikap lemahlembutlah terhadap hamba-hamba Allah, semoga engkau termasuk golongan yang tersirat dalam do'a yang dipanjatkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,
"Ya Allah, barangsiapa bersikap lembut terhadap umatku, maka perlakukanlah ia dengan lembut dan barangsiapa yang membuat kesukaran kepada mereka maka ciptakanlah kesukaran baginya". (HR. Ahmad).
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,
“Sesungguhnya Allah Maha lemah lembut dan mencintai kelembutan. Dia memberikan pada kelemah lembutan apa yang tidak Dia berikan pada kekerasan". (HR. Muslim).
Dan juga sabda beliau,
“Barangsiapa terhalang untuk mendapat sifat lemah lembut maka ia terhalang dari semua kebaikan". (HR. Muslim).
Tutupilah aib hamba-hamba Allah, maka Allah subhanahu wata’ala akan menutupi aibmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Barangsiapa menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat". (HR. Muslim).
Dan sabda beliau,
"Barangsiapa menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya pada hari Kiamat". (HR. Ibnu Majah).
Berilah makan kaum muslimin niscaya Allah subhanahu wata’ala akan memberi makanan kepadamu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Mukmin manapun yang memberi makan seorang mukmin ketika lapar maka Allah akan memberikannya makanan dari buah-buahan Surga.” (HR. Imam At-Tirmidzi).
Berilah minum kaum muslimin maka Allah subhanahu wata’ala akan memberikan minuman kepadamu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah besabda,
"Mukmin manapun yang memberi minum seorang mukmin yang sedang kehausan maka Allah akan memberinya minum pada hari Kiamat dari Ar-Rohiq Al-Makhtum". (HR. At-Tirmidzi)
Berilah kaum muslimin pakaian niscaya Allah akan memberi pakaian kepadamu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
"Mukmin mana pun yang memberi pakaian kepada seseorang yang telanjang maka Allah akan memberinya pakaian sutra halus berwarna hijau dari Surga". (HR. at-Tirmidzi).
Sebagaimana perlakuanmu terhadap hamba-hamba Allah, maka seperti itu pula perlakuan Allah terhadapmu. Oleh karena itu, janganlah sekali-kali engkau menyiksa manusia karena sesungguhnya Allah akan menyiksamu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Sesungguhnya Allah menyiksa orang-orang yang menyiksa manusia di dunia". (HR. Imam Muslim).
Allah subhanahu wata’ala juga telah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 49 yang artinya,
"Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir'aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya".
Dalam ayat lain Allah subhanahu wata’ala berfirman yang artinya,
"Dan pada hari terjadinya kiamat, (dikatakan kepada malaikat), "Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras". (QS. Al-Mukmin: 46).
Hindarilah dirimu dari mempersulit hamba-hamba Allah karena hal itu dapat membuatmu tertimpa do'a yang diucapkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,
"Ya Allah, barangsiapa yang mengurusi urusan umatku lalu membuat susah mereka, maka buatlah kesusahan baginya". (HR. Muslim).
Janganlah engkau menyakiti hati kaum muslimin dengan mencari-cari aib mereka karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,
"Barangsiapa mencari-cari aib seorang muslim, maka Allah akan mencari-cari aibnya. Dan barangsiapa yang Allah menelusuri (mencari-cari) aibnya maka Allah akan membongkarnya meskipun berada di dalam rumahnya". (HR. At-Tirmidzi).
Janganlah engkau cabut rasa kasih sayangmu kepada manusia karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,
"Barang siapa yang tidak menyayangi manusia, maka Allah Azza wa Jalla tidak menyayanginya". (HR. Muslim).
Ingatlah baik-baik wahai hamba-hamba Allah! Di mana engkau memperlakukan hamba-hamba Allah dengan sebuah perbuatan, maka engkau akan mendapatkan balasan yang sesuai dengan apa yang telah engkau kerjakan di sisi Sang Pencipta.
Imam Ibnul Qoyyim berkata, "Sesungguhnya Allah Maha Mulia dan Ia mencintai kemuliaan dari hamba-Nya. Allah Maha Mengetahui (berilmu), dan mencintai para ulama. Allah Maha berkuasa, mencintai para pemberani. Allah Maha Indah, mencintai keindahan. Allah Maha Penyayang, menyayangi orang-orang yang penyayang. Sesungguhnya Allah menyayangi hamba-hamba-Nya yang penyayang. Allah Maha Menutupi (aib), mencintai orang-orang yang menutupi aib hamba-hamba-Nya. Allah Maha Pemaaf, mencintai hamba-Nya yang senang memberi maaf. Allah Maha Pengampun, mencintai hamba-Nya yang mengampuni kesalahan orang lain. Allah Maha Lembut, mencintai kelembutan dari hamba-hamba-Nya dan membenci kekerasan. Allah Maha Santun, mencintai sopan santun.

Allah Maha Baik, mencintai kebaikan dan pelakunya. Allah Maha Adil, mencintai keadilan. Allah Maha Menerima udzur (alasan yang dibenarkan), mencintai orang yang menerima udzur hamba-hamba-Nya.

Allah
subhanahu wata’ala akan memberi balasan kepada hamba-Nya sesuai dengan sifat-sifat ini. Maka barangsiapa memaafkan maka Allah akan memaafkannya. Barangsiapa siapa yang mengampuni kesalahan manusia maka Allah akan mengampuninya. Barang siapa bersikap dermawan kepada orang lain maka Allah subhanahu wata’ala akan bersikap dermawan kepada nya. Barangsiapa memusuhi hamba-hamba Allah maka Allah akan memusuhinya.

Barangsiapa bersikap lemah lembut kepada hamba-hamba Allah maka Allah akan bersikap lemah lembut kepadanya. Barangsiapa menyayangi makhluk Allah maka Allah akan menyayanginya. Barangsiapa berbuat baik kepada manusia maka Allah akan berbuat baik kepada-Nya. Barangsiapa memberi manfaat kepada manusia maka Allah akan memberikan manfaat kepadanya. Barangsiapa menutupi aib saudaranya maka Allah
subhanahu wata’ala maka menutupi kekurangan atau kesalahannya. Barangsiapa berusaha untuk tidak marah kepada manusia maka Allah tidak akan marah kepadanya.

Barangsiapa mencari-cari aib manusia maka Allah akan menelusuri aib-aibnya. Barangsiapa membuka kejelekan hamba-hamba Allah maka Allah akan membuka dan membeberkan kejelekannya. Barangsiapa enggan berbuat baik kepada manusia maka Allah tidak akan berbuat baik kepadanya. Barangsiapa membuat sulit seseorang maka Allah akan memberinya kesukaran (masalah). Barangsiapa berbuat makar, maka Allah akan membalas makar kepadanya. Barangsiapa menipu Allah maka Allah akan memberikan balasan kepadanya dengan tipuan pula.


Dan barangsiapa memperlakukan seseorang dengan sebuah sifat maka Allah akan memperlakukannya dengan sifat itu sendiri di dunia dan akhirat. Allah akan memperlakukan hamba-Nya sesuai dengan perlakuan hamba terhadap makhluk-Nya.


Maka tamaklah engkau -semoga Allah memberi taufik kepadamu- untuk senantiasa memberi manfaat kepada hamba-hamba Allah, untuk merealisasikan sebuah sabda Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam,
"Barangsiapa diantara kalian mampu memberi mafaat terhadap saudaranya maka lakukanlah". (HR. Muslim).
Berbuat baiklah kepada mereka sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.

Jadilah engkau seorang yang lembut yang senang memudahkan urusan mereka. Karena Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,
"Neraka itu haram menyentuh setiap orang yang lunak, lembut, mudah (dalam bermuamalah) dan dekat (dengan manusia)". (HR. Imam Ahmad).
Maafkanlah mereka, janganlah mudah marah, toleransilah terhadap mereka dan senantiasalah menjadi seorang pengampun. Semoga Allah subhanahu wata’ala mengampuni segala dosa dan kesalahanmu. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala seseorang yang memperbagus amal perbuatannya.

Surat 99 Al-zalzalah: 7-8

"Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya pula."


Ayat diatas adalah merupakan ayat yang seadil-adilnya dari Tuhan, dimana Tuhan tidak akan pernah menjolimi (berbuat tidak adil kepada manusia) khususnya kepada mukmin. Nah telah jelas terlihat bahwa Allah akan memberikan balasan pahala bagi orang2 yang berbuat baik walau sebesar biji sesawi demikian juga kepada orang yg berbuat kejahatan walaupun sebesar biji sesawi tetap mendapat ganjaran adil bukan?

Nah kita sampai mengenai balasan.... lalu apakah balasan itu kelak di akhirat, yah tidak lain tidak bukan adalah Selamat dan tidak selamatnya manusia, jadi maksud dari surah 99:7-8 itu adalah merasakan hukuman / balasannya bagi orang yg pernah berbuat dosa dan merasakan nikmat bagi yang pernah berbuat kebajikan..

Karena itulah maka ada ayat lain dari Alquran yg mengatakan:

"Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut." (Maryam 19:71-72).

Mengapakah ayat diatas menerangkan bahwa semua manusia itu harus mendatangi neraka dulu? Karena tidak satu manusiapun yang luput dari dosa dan kesalahan
sesuai dengan ayat Alquran dibawah ini;

"Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima-kasih kepada Tuhannya, dan sesungguhnya menyaksikan sendiri keingkarannya (Aadiyaat:100,6-7)

Hal itu benar, diayat lain juga Alquran mengatakan bahwa semua manusia telah berdosa, tersentuh setan . Nah karena semua manusia pernah berdosa terlepas itu apakah dosa besar atau kecil tetapi sesuai dengan konsep keadilan surah 99:7-8 maka wajib harus mendapatkan ganjaran atas dosanya didalam penghukuman (lihat juga surah 19:71-72)


Demikian juga hal diatas dikuatkan dalam hadist seperti dibawah ini;Dari Anas r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Dikeluarkan dari neraka orang yang mengucapkan (Laa Ilaaha Illallah) dan di dalam hatinya ada seberat biji dari kebaikan (iman)." (HR Bukhari 44 dan Muslim 193)

Hadist ini telah mengatakan bahwa manusia nantinya akan dikeluarkan dari neraka setelah mengucapkan Laa Ilaaha Illallah dan juga karena didalam hatinya telah ada seberat biji kebaikan (amal dan iman) ketika masa hidupnya di dunia.

Mengenai hal itu seorang pakar Islam terkenal bertaraf international dari Karachi Pakistan mengemukakan dalam bukunya 'ISLAM dan KRISTEN Dalam Perspektif Ilmu Perbandingan Agama' pada hal. 63-64 yang telah dikaji staf pengajar Magister Studi Islam Pasca Sarjana dari salah
satu universitas di Indonesia, mengakui bahwa: "Neraka merupakan tempat penebusan dosa-dosa (semacam rumah sakit), untuk penyembuhan melalui api yang menyakitkan dan menimbulkan kepedihan".

Manusia tidak mempunyai kekuatan untuk melakukan terus-menerus yang baik dan hanya yang baik saja.Karena baik menurut kita tetapi bisa saja salah dihadapan Allah, sebab manusia hanya mengetahui apa-apa yang terlihat sedangkan Allah Maha mengetahui segalanya.

Karena tidak satu manusiapun yang luput dari dosa dan kesalahan sesuai dengan ayat Alquran dibawah ini;

"Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima-kasih kepada Tuhannya, dan sesungguhnya menyaksikan sendiri keingkarannya (Aadiyaat: 100,6-7)

Dikuatkan dalam hadist lain;
Ibnu mas'ud berkata kepada nabi, "Semua orang akan masuk ke neraka. Kemudian mereka akan keluar dari sana menurut perbuatannya. Mereka yang keluar yang paling pertama akan seperti sebuah kilat, yang berikut seperti taufan, yang kemudian seperti kuda yang lari cepat, sesudah itu seperti penunggang kuda yang cekatan, kemudian seperti seorang yang melompat dan akhirnya sebagai orang yang berjalan"
(Tirmidhi dan Damini).

Mengenai hal ini, Allah Taala berfirman yang bermaksud: "Timbangan amal pada hari kiamat adalah satu keadilan yang benar, maka sesiapa yang berat timbangan kebaikannya, mereka itulah orang yang berjaya memperoleh apa yang mereka harapkan; dan sesiapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang yang merugikan diri
sendiri dengan sebab mereka meletakkan ayat keterangan Kami pada bukan tempatnya". (Surah Al-A'raf, ayat 8-9).


Dalam ayat lain pula, Allah berfirman yang bermaksud: "Dan Kami akan mengadakan timbangan yang adil pada hari kiamat. Oleh itu, maka tidak ada seseorang yang akan teraniaya barang sedikit pun, walau amalannya seberat biji sawi, Kami tetap menghitungnya, dan cukuplah Kami menjadi penghitung". (Surah Al-Anbia' ayat 47).

Dari Abu Hurairah, katanya, Rasulullah SAW bersabda maksudnya: "Kamu tidak akan masuk syurga hingga kamu beriman. Kamu tidak akan beriman hingga kamu berkasih-kasihan. Adakah tidak aku tunjukkan kamu suatu? Apabila kamu kerjakan, kamu akan berkasih-kasihan? yaitu sebarkan
salam di kalangan kamu." (Hadis riwayat Muslim dan Abu Daud).

Dalam hadis ini, Rasulullah menunjukkan kepada kita sebagai umatnya ada suatu rahasia yang paling menyenangkan untuk dilaksanakan sebagai jalan menuju ke syurga yaitu menyebarkan salam dengan seluas-luasnya di kalangan umat Islam, berkasih sayang sesama sendiri dan keimanan mendalam.

Salam dapat mempengaruhi manusia ke arah hidup yang lebih harmoni. Oleh itu, sebarkan salam di kalangan kamu karena itulah kunci rahasia ke syurga.

Maka segerakanlah bertobat dengan yang sebenar benarnya ..sebelum semua terlambat ...sebelum ajal menjemput....

" Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang diantara mereka (barulah) ia mengatakan: "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang" Dan tidak pula (diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah
Kami sediakan siksaan yang pedih (QS Annisa 4:18)

"Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan , yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (QS Annisa 4:17)