Rabu, 02 Februari 2011

Ketika Pintu Taubat Masih Terbuka Lebar


"Perbuatan orang yang bertaubat ada empat:
Pertama, menjaga lidahnya dari ghibah, dusta, hasad dan kesia-sian.
Kedua, menjauhi teman jahat.
Ketiga, ketika dosa disebut dihadapannya, dia malu kepada Allah swt.
Keempat, mempersiapkan diri untuk kematian.Tanda kesiapan itu adalah dia tidak pernah merasa tidak ridha kepada Allah swt dalam keadaan apapun"
(Hatim Al Asham)

" Demi Allah, Sesungguhnya saya beristighfar dan bertaubat kepada Allah SWT dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali" (H.R. Bukhari) demikian sabda Rasulullah saw. Dalam riwayat lain beliau bersabda: " Wahai manusia, bertaubatlah pada Allah. Sesungguhnya saya bertaubat kepada-Nya dalam sehari seratus kali" ( H.R. Muslim).

Subhanallah.Rasulullah saw seorang hamba yang berakhlaq mulia. Sebagai kekasih Allah, beliau seorang manusia yang ma'sum (bersih dari dosa), diampuni dosa-dosanya yang terdahulu dan akan datang oleh Allah SWT. Seorang hamba yang telah mendapat jaminan surga oleh Allah SWT pada kehidupan hari Akhir kelak. Walaupun demikian, Rasulullah saw tetap beristighfar (memohon ampun) dan bertaubat kepada Allah SWT setiap harinya lebih tujuh puluh kali. Kedua hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah saw mengajarkan dan mendorong ummatnya untuk selalu beristighfar dan bertaubat seperti dirinya, karena dengan rutinitas beristighfar dan bertaubat dengan ini akan menghapus dosa-dosa yang kadangkala dilakukan oleh seorang manusia tanpa disadari. Kemudian, hadits tersebut tidak bermaksud jumlah tertentu dalam istighfar, namun yang ditegaskan adalah kualiti dan kuantitas istighfar, sesuai dengan kemampuan masing-masing kita. (Sila baca Kitab "Nuzhatul Muttaqin, syarh Riyadlus Shalihin", jilid 1,bab Taubat, hal 31).

Kita sebagai hamba-Nya yang dhaif, senantiasa hidup berlumuran dosa dan kesalahan, baik disengaja atau tidak. Selain itu kita belum mendapat jaminan masuk surga dari Allah SWT. Namun, sudah berapa sering kita beristighfar?? Sejauh mana kita bertaubat kepada Allah?? Apa yang telah kita perbuat setiap harinya?? Sadarkah kita berapa banyak dosa yang kita pikul setiap harinya?? Pertanyaan semacam ini perlu, dalam rangka meningkatkan kualitas iman dan mendekatkan diri kepada Allah swt ini Kadangkala kita disibukan dengan kemewahan dunia hingga kita lupa dengan kualitas iman dan amal kita. Lupa akan maksiat yang senantiasa kita lakukan. Sudah saatnya kita berkaca kembali, menjadikan muhasabah sebagai momementum untuk menyadari dan mendeteksi kondisi yang "memprihatikan" ini.. Bukan suatu hal mustahil, semakin umur kita dipanjangkan semakin banyak pula kesalahan dan dosa yang melumuri tubah kita. Na'u zubillahi min zalik.

Renungkanlah , apa saja nikmat dan karunia Allah swt untuk kita, sejak kehidupan ini berlaku bagi kita, saat kita lahir dari kandungan sebagai bayi hingga jarak puluhan tahun berikutnya yang mengantarkan kehidupan kita saat ini, detik ini. Sesungguhnya kasih sayang Allah swt itu sama sekali tidak dapat kita hitung bahkan tak mungkin juga tertampung dalam memori pikiran kita.

Allah swt memang Maha Kasih saudaraku.
Di antara bukti kasih sayang-Nya yang paling agung untuk kita adalah, Dia tetap memberi peluang kepada kita untuk bertaubat dan kembali kepada-Nya, hingga saat ini. Tak peduli berapa lebarnya jarak yang memisahkan kita lakukan lewat kekeliruan dan dosa, kepada-Nya. Allah swt ternyata tetap saja memberi kesempatan buat kita untuk menoleh dan kembali kepada-Nya. Tak peduli bagaimanapun legamnya hati kita oleh dosa kemaksiatan yang terus-menerus kita lakukan. Allah swt Yang Maha Kasih itu ternyata tetap memberi kita kesempatan untuk memperbaiki diri dan kembali mendekat kepada-Nya.

Perhatikanlah, Sesungguhnya kesempatan menoleh dan kembali kepada Allah swt, serta kesempatan untuk memperbaiki diri dan kembali mendekat kepada-Nya itu, ada pada kesempatan hidup yang Allah berikan pada kita hingga saat ini. Karena rentang kehidupan yang kita jalani, sebenarnya adalah rentang pintu taubat yang tak mungkin tertutup kecuali hingga kehidupan kita berakhir. Disaat kita merasakan kerongkongan tercekik menghembuskan nafas terakhir, di sanalah pintu kesempatan kembali kita sudah tertutup. "Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta'ala meneria taubat seorang hamba, selama ruhnya belum sampai di kerongkongannya," ( H.R.Tirmizi) demikian sabda Rasulullah saw tentang ke Maha Rahmah dan Pengampunnya Allah swt.

Karena di antara gangguan dan bisikan syaitan kepada orang yang bertaubat adalah, bisikan yang membesar-besarkan prilaku dosa dan kemaksiatan yang telah dilakukan hingga seseorang merasa lunglai dan percuma bertaubat. Sementara di sisi yang lain, syaitan juga menghembuskan bisikan untuk mengecil-ngecilkan dan menyepelekan dosa dan kemaksiatan, sehingga seseorang terus-menerus melakukan dosa dan kemaksiatan itu.

Dalam Fiqih syaitan, suasana putus asa yang memalingkan seseorang dari taubat, itu lebih utama daripada mendorong orang untuk melakukan dosa dan kemaksiatan. Apa sebabnya? Karena pelaku dosa dan kemaksiatan bisa saja bertaubat dan taubatnya diterima Allah swt. Tapi orang yang putus asa dari rahmat Allah dan tidak mau bertaubat, akan semakin jauh untuk kepada Allah.

Mungkin hal inilah yang menjadikan sebagian ulama berpendapat, tentang keutamaan seorang berilmu yang beribadah kepada Allah dengan ilmu dan pemahamannya, meski amal ibadahnya tidak terlalu banyak. Dibandingkan dengan seribu orang ahli ibadah yang menjalankan amal ibadah begitu banyak, tapi miskin ilmu. Pelaku ibadah yang berilmu, akan bersikap lebih keras dan lebih waspada terhadap gangguan syaitan, ketimbang mereka yang melakukan ibadah, tanpa ilmu. Itu karena, gangguan syaitan biasa mengelabui ahli ibadah yang lugu dari tipu syaitan.

Selain kesempatan hidup yang berarti keterbukaan pintu untuk bertaubat dan kembali kepada Allah, ada banyak karunia Allah yang luar biasa. Misalnya, rizki yang didatangkan Allah ketika kita melakukan ketaatan. Ternyata Allah swt segera menunjukkan kasih sayang-Nya terhadap orang-orang yang melakukan amal-amal taat. Coba perhatikan apa yang disebutkan dalam hadits, "Sesungguhnya seorang hamba akan terhalang dari rizki, akibat dosa yang ia lakukan". Ini artinya, ketaatan akan mendekatkan seseorang pada rizkinya. Perhatikan juga hadits Rasulullah saw yang lain, "Kemaksiatan itu titik noda dalam hati dan hitam dalam wajah. Sedangkan kebaikan itu cahaya di hati, kelapangan di dada dan cahaya pada wajah". Alhmdulillah.Sungguh Maha Rahmah dan pemurahnya Allah swt.

Jika kita termasuk orang-orang yang sedang bertaubat dan kembali kepada Allah swt, waspadalah. Karena saat-saat itulah syaitan lebih meningkatkan intaiannya untuk masuk melalui sisi-sisi lengah dan celah kelemahan kita. Syaitan berupaya menghiasi hati kita untuk menjadi senang dan bangga dengan taubat, namun kemudian kita terpedaya menganggap bahwa pertarungan dengan nafsu sudah selesai. Kondisi seperti ini sangat berbahaya, karena bisa jadi tipuan seperti itu sulit diditeksi kecuali oleh mereka yang tajam mata batinnya karena keimanan. Dialah yang bisa membedakan, antara taubat yang sejati dan taubat palsu.

Agar taubat kita menjadi taubat sejati (taubat nasuha) dan diterima Allah swt, maka harus memenuhi kriteria tertentu. Imam Nawawi rahimahullah ta'ala menukilkan perkataan para ulama: " Taubat itu wajib bagi pelaku dosa. Jika dosa itu berkaitan dengan Allah swt, maka taubat yang sejati itu harus memenuhi 3 kriteria: Pertama, menghentikan maksiatnya. Kedua, menyesali perbuatan tersebut. Ketiga, berazam untuk tidak mengulanginya selamanya. Jika tidak terpenuhi ketiga syarat tersebut maka taubatnya itu tidak sah. Adapun dosa yang berkaitan dengan manusia lainnya syarat taubatnya ada 4, yaitu 3 syarat diatas ditambah dengan meminta maaf pada orangnya" (Sila rujuk Kitab "Riyadlus shalihin", bab Taubat)

Boleh saja kita yang merasa suka cita dan gembira karena telah kembali kepada Allah swt. Sebagaimana Allah swt juga sangat suka cita menerima hamba-Nya yang kembali kepada-Nya, sebagaimana hadits Rasulullah saw "Demi Allah, sesungguhnya Allah lebih gembira ketika hamba-Nya bertaubat kepada-Nya daripada seseorang diantara kamu yang kehilangan unta dipadang tandus, lalu ia menemukan kembali untanya tersebut" ( H.R. Bukhari). Tapi, berhati-hatilah, dari kesenangan dan kegembiraan yang bisa menipu dan menjadikan kita tenang serta yakin dengan nasib di akhirat lalu merasa aman dari azab Allah swt.

Waspadalah seperti kewaspadaan Abu Bakar Ash- Shiddiq radhiallahu anhu: "Demi Allah, jika salah satu kakiku telah menjejak surga, sedang yang lain masih berada di luar surga, maka selama itu aku tidak akan merasa aman dari makar Allah swt".

Pertarungan dan kewaspadaan ini belum selesai, sampai kedua kaki kita menginjak surga. Dan kitapun tidak tau apakah kelak akan masuk surga atau tidak. Beristighfar dan bertaubatlah segera..! Jangan menunda taubat dan amal. Karena kitapun tidak tahu kapan maut menjemput kita, dimana pada saat itu pintu taubat telah ditutup. Maka gunakanlah pintu taubat selagi masih ada kesempatan, selama masih terbuka lebar bagi hamba-Nya yang ingin kembali kepada-Nya.
Ingatlah pesan Rasululah: "Gunakan 5 kesemptan sebelum datang 5 kesempatan lainnya.

Hadits-hadits Tentang Taubat

Saya mengajak pembaca merenungi sabda Rasul SAW, melihat-lihat keindahan dan kemudahan Islam, sehingga kita tidak akan lagi mendengar kekerasan, kegarangan, kesusahan, maupun kepelikan yang sering disematkan kepada ajaran Islam.

Rasul SAW bersabda, "Wahai para manusia, minta ampunlah pada Tuhan kalian dan bertaubatlah, maka aku meminta ampun dan bertaubat pada Allah seratus kali setiap hari. " (HR. Bukhari dan Muslim).


Rasul SAW meminta ampun dan bertaubat setiap hari seratus kali. Sedang kita selama sepuluh tahun tidak pernah bertaubat, sama sekali Rasul yang ma'shum, terjaga dari maksiat, bertaubat seratus kali setiap hari? Bertaubat dari apa? Derajat Rasul telah tinggi di hadapan Allah, dan ia ingin mengangkat derajatnya dengan cinta dan ma'rifat Allah. Apakah kita ingat, kapan terakhir kali kita bertaubat? Sudahkah kita mengulangi taubat itu lagi atau belum?


Para sahabat berkata, "Kami menghitung dalam setiap satu pertemuan Rasulullah SAW mengucapkan lebih dari seratus kali,


“Ya Rabbi, ampunilah aku, dan terimalah taubatku. Sesungguhnya, Engkau, adalah Maha Penerima taubat, lagi Maha Penyayang'." (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad).


Bayangkan, Rasul diam di tengah para sahabat, lalu meminta ampun. Mengulangi dan akhirnya menyudahi dalam hitungan lebih dari seratus kali. Maka, bertaubat dan mintalah ampun kalian pada Allah SWT. Tidakkah kita melihat Rasul yang lebih dari tujuh puluh kali beristighfar dalam satu pertemuan. Lalu, bagaimana dengan kita?


Nabi SAW bersabda, “Sungguh, Allah membentangkan tangan-Nya setiap malam agar orang yang berbuat kejelekan di siang hari mau bertaubat. Dan Dia juga membentangkan tangan-Nya di siang hari agar orang yang berbuat kejelekan di malam hari mau bertaubat." (HR. Muslim dan Imam Ahmad).


Dalam perkara rezeki, Allah tidak membentangkan kedua tangan¬-Nya seperti ini. Satu-satunya perkara yang Allah SWT membentangkan kedua tangan-Nya untuk menerimanya adalah taubat. Dengan ini, apakah kita tetap enggan bertaubat? Tidakkah kita merasa malu? Sepuluh tahun, mau bertaubat Padahal Allah membentangkan tangan-Nya untuk menerima taubat setiap malam dan siang hari.


Nabi SAW bersabda, "Rabb kita turun setiap sepertiga malam terakhir, lalu berfirman, ‘Siapa yang berdoa pada-Ku, untuk Aku kabulkan permohonannya?; siapa yang meminta pada-Ku, untuk Aku penuhi permintaannya?; dan siapa yang mohon ampun pada-Ku, untuk Aku ampuni dosanya?. " (HR. Bukhari dan Muslim)


Selama 30 atau 40 tahun kita mendengkur setiap malam. Bahkan, ada vang selama hidup tidak mau bangun dan berkata, "Aku bertaubat dari dosaku selama dua puluh tahun yang lalu." Di saat Allah sedang turun ke bumi, dan berkata, ‘Adakah orang yang bertaubat? Siapakah yang bertaubat, untuk Aku ampuni?."


Saudaraku, apakah kita tahu, siapa Rabb kita? Apakah kita rnerasakan kebesaran, kasih sayang dan ma' rifat Allah dengan hamba¬-Nya?


Dalam sebuah hadits Qudsy dikatakan, "Wahai Bani Adam, kalian tidaklah (sungguh-sungguh) berdoa dan mengharap pada-Ku, Aku akan mengampuni dosa-dosa kalian dan Aku tidak peduli. Wahai Bani Adam, jikalau dosa kalian mencapai awan di langit, lalu kalian minta ampun pada-Ku, Aku akan mengampuni kalian, dan Aku tidak peduli. Wahai Bani Adam, jikalau kalian datang pada-Ku dengan dosa sebesar ukuran bumi, tetapi kemudian kalian mendatangiku dengan tanpa berbuat syirik pada-Ku, maka Aku akan datang padamu dengan ampunan sebesar itu pula." (HR. At-¬Tirmidzi).


Mengapa kita tetap enggan bertaubat dengan semua ini? Lalu kapan kita akan bertaubat? Apa yang ingin kita dengar untuk bertaubat? Apakah kita ingin ditimpa adzab yang pedih untuk bertaubat? Apakah kita tidak mau bertaubat dengan keadaan sehat lagi selamat?


Ketika Iblis menentang Allah, tidak bersujud pada Adam AS ia berkata, "Ya Rabbku, demi kemuliaan-Mu dan keagungan-Mu, aku akan sesatkan mereka selama nyawa mereka masih di badan." Allah menjawab, "Demi kemuliaan-Ku dan keagungan-Ku, Aku akan ampuni mereka selama mereka minta ampun pada-Ku." (HR. Imam Ahmad)


Apalagi yang kita inginkan? Apa yang kita ingin dengarkan? Ataukah kita ingin mendengar cinta dan kasih sayang Allah?


Rasul bersabda, “Allah lebih gembira menerima taubat hamba-Nya dari pada hamba yang berjalan di padang pasir, lalu ia kehilangan kendaraannya yang memuat makanan dan minumannya. Ia menyangka akan mati, lalu ia menggali lubang, dan tidur di dalamnya sambil berkata, Aku akan tidur di lubang ini sampai kematian datang menjemput.' Tiba-tiba kendaraan dan makanan yang ia bawa berada di atasnya. ---Adakah kebahagian yang lebih besar dari peristiwa itu? Kebahagian orang yang akan mati, lalu selamat?--- sampai-sampai ia berkata, 'Ya Allah Kau hambaku, dan aku tuhan-Mu.' (la sampai salah bicara karena bahagia.) Maka Allah lebih gembira menerima taubat hamba-Nya dari pada kegembiraan hamba tadi." (HR. Bukhari dan Muslim)


Laa ilaha illallaah, kita begitu lalai pada Allah. Tidakkah kita melihat besarnya karunia-Nya? Dan kita tetap enggan bertaubat setelah mendengar semua itu? Begitu keraskah hati kita?


Di zaman Bani Israil, ada seorang yang melakukan dosa selama hidupnya. Ketika hampir mati, ia mengumpulkan anak-anaknya seraya berkata, "Wahai anakku, tiada seorang pun di dunia ini yang melakukan dosa sepertiku. jika aku mati, bakarlah bangkaiku, nyalakan api, lalu lemparkan aku ke dalamnya. Bila sudah jadi abu, hancurkanlah, dan tebarkan di puncak-¬puncak gunung. Maka sekiranya Tuhanku kuasa atasku, Ia akan menyiksaku dengan siksa yang tak seorangpun disiksa dengannya."


Ketika mati, ia pun dibakar, dan abunya dihancurkan. Lalu, mereka menunggu hari bertiupnya badai. Setelah badai tiba, mereka sebarkan abu itu di atas gunung. Setelah itu, Allah berfirman, "Jadilah," maka jadilah. Lalu Allah berfirman, "Apa yang menyebabkan kamu melakukan ini?" la menjawab, "Aku takut pada-Mu dan dosaku." Allah berfirman, "Dengan takutmu pada-Ku, Aku telah mengampunimu. Aku bersaksi denganmu, wahai mlalaikat, bahwa Aku telah mengampuninya dan memasukkannya ke surga." (HR. Bukhari dan Muslim).


Ada pula atsar yang mengisahkan seseorang dengan ketaatannya selama dua puluh tahun. Setelah itu ia pun berbuat maksiat selama dua puluh tahun juga. Lalu ia berkata, "Ya Tuhanku, aku taat padamu selama dua puluh tahun, lalu bermaksiat selama dua puluh tahun... Akankah aku Kau terima jika aku bertaubat?" Ia bergumam sendiri, "Tidak mungkin setelah semua yang aku perbuat." Suatu hari ia tertidur. la pun mendengar suara, "Kau telah berbuat taat pada Kami, sehingga Kami pun mendekatimu. Lalu, Kau pun bermaksiat hingga Kami pun melupakanmu. Maka jika kau kembali pada Kami, Kami pun akan menerimamu."


Saudariku, kau telah membuka jilbabmu, dan kau merasa telah terlanjur berdosa. Kau telah jauh dari Allah. Tidak, pintu taubat masih terbuka! Kembalilah kau pada Tuhanmu!


Di zaman Nabi Musa AS terjadi masa paceklik. Manusia dan hewan kehausan, dan hampir mati, karena sedikitnya persediaan air. Mereka lelah, hingga berkata, "Wahai Musa, serulah Allah, dan mintalah agar hujan diturunkan!" Nabi Musa pun mengumpulkan mereka di satu tanah lapang, lalu ia berdoa pada Allah. Mereka pun mengamini doa beliau, tetapi hujan tak kunjung turun. Akhirnya, ia pun berkata, "Ya Tuhanku, mengapa Kau tidak mau menurunkan hujan, padahal kami telah berdoa dan menghinakan diri pada-Mu?"


Allah menjawab, "Wahai Musa, di antara kalian ada seorang yang berbuat maksiat selama empat puluh tahun, ia belum bertaubat. Maka ia menghalangi terkabulnya doa kalian." Lalu ia bertanya, "Lalu apa yang harus kami lakukan?" Allah menjawab, "Keluarkanlah orang yang berbuat maksiat itu! Jika orang itu keluar dari barisan kalian, hujan akan turun." Nabi Musa pun berkata, "Aku minta kalian bersumpah pada Allah. Aku bersumpah pada Allah, di antara kita ada yang berbuat maksiat selama empat puluh tahun, hingga hujan tidak turun-turun, maka hendaklah ia mau keluar dari barisan."


Orang yang berbuat maksiat itu menoleh ke kanan dan kiri sekiranya ada yang keluar selain dia. Tetapi tidak ada seorang pun yang keluar. Tahulah ia kalau yang dimaksud adalah dirinya. Lalu ia berkata, "Ya Tuhanku, aku telah berbuat maksiat selama empat puluh tahun, dan Kau telah menutupinya. Ya Tuhanku, jika aku keluar, maka namaku akan tercemar. Dan jika aku tetap tinggal, maka hujan tidak akan turun. Ya Tuhanku, aku sekarang bertaubat padamu, aku menyesal, aku kembali pada-Mu, maka ampunilah aku, dan tutupilah kejelekanku!"


Hujan pun turun, akan tetapi orang yang berbuat maksiat itu tidak keluar dari barisan. Akhirnya, Nabi Musa bertanya, "Ya Tuhanku, hujan telah turun, dan orang itu belum keluar?" Allah menjawab, "Wahai Musa, hujan telah turun dengan taubat hamba-Ku yang telah bermaksiat selama empat puluh tahun."


Nabi Musa bertanya lagi, "Ya Tuhanku, tunjukkan orang itu padaku agar aku bergembira dengannya." Allah menjawab, "Wahai Musa, ia telah berbuat maksiat pada-Ku selama empat puluh tahun, dan Aku telah menutupinya. Lalu apakah Aku akan membukanya padamu, mencemarkan namanya, padahal ia telah kembali pada-Ku?".


Saudaraku, bertaubatlah! Siapakah yang mendengar perkataan ini, dan enggan bertaubat? Sekali lagi bertaubatlah!

Tipuan Syetan Kepada Orang yang Bertaubat

Sesungguhnya syetan tidak suka jika manusia mendapat cinta dan ridla Rabb-nya. Dia berusaha menjerumuskan mereka ke dalam kemaksiatan, tindakan keji, dan berkata tentang Allah tanpa ilmu. Harapannya, agar mereka menjadi temannya di neraka yang menyala-nyala.

Begitu juga terhadap orang yang sudah terjerumus ke dalam lembah kemaksiatan dan ingin keluar darinya, Syetan tidak pernah tinggal diam. Dia menggunakan berbagai cara tipu muslihat dan talbis agar mereka tetap dalam lembah maksiat. Terkadang syetan menggoda dengan menanamkan perasaan bahwa dirinya sangat kotor, dosanya bertumpuk-tumpuk dan tak terampuni. Sesekali juga dengan membisikkan tipuan bahwa Allah Mahapenerima taubat dan Mahapengampun, kapan saja bertaubat Allah senantiasa membuka pintu-Nya. Akhirnya ia memandang mudah masalah taubat, menggampangkannya, dan menunda-nundanya sehinga ia tak pernah bertaubat karena ajal dahulu menjemput. Berikut ini rincian godaan syetan agar menusia jauh dari taubat:

1. Tazyin, yaitu syetan menghiasi (menjadikan indah) perbuatan maksiat yang dilakukannya, menjadikannya cinta kepada maksiat itu, menjauhkannya dari ketaatan dan menampakkan susah dan beratnya taubat.

2. Talbis, yaitu syetan menipu manusia dengan menjadikan yang haram seperti halal, yang mungkar terlihat ma'ruf, batil seolah hak sehingga ia tidak akan keluar dari perbuatan tersebut.

3. Taswif, yaitu menunda-nunda taubat sehingga maut menjemput. Cara mengobatinya dengan banyak mengingat kematian dan bencana. Misalnya: banyak anak-anak yang lebih dulu mati sebelum yang tua, yang sehat sebelum yang sakit.

Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam :

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اَللَّذَّاتِ: اَلْمَوْتِ

"Perbanyaklah mengingat sesuatu yang menghilangkan kenikmatan, yaitu kematian." (HR. At-Tirmidzi no. 2307; an Nasai 4/4; dan dishahihkan oleh Ibnu hibban)

. . syetan menghiasi (menjadikan indah) perbuatan maksiat yang dilakukannya, menjadikannya cinta kepada maksiat itu, . .

4. Meremehkan maksiat. Syetan menggodanya dengan mengatakan; "dosa-dosamu masih sedikit dibandingkan dosa orang lain. Allah Maha Pengampun dan Penyanyang. Dia tidak akan menyiksamu dengan dosa ini."

Ibnu Mas'ud radliyallah 'anhu berkata:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ فِي أَصْلِ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ وَقَعَ عَلَى أَنْفِهِ قَالَ بِهِ هَكَذَا فَطَارَ

"Sesungguhnya seorang mukmin dalam melihat dosanya, seolah-olah ia berada di bawah gunung, yang takut akan menimpanya. Dan sungguh seorang fajir melihat dosanya seperti lalt yang hinggap di hidungnya, lalu ia berkata seperti ini, maka lalat itupun terbang." (HR. Al-Bukhari no. 5833; al Tirmidzi no. 2421; Ahmad no. 3446)

Maknanya, dia menganggap remeh dosanya. Ia yakin dosanya tidak akan mendatangkan bahaya yang besar, sebagaimana ia meremehkan lalat. Sehingga ia merasa mudah menghilangkannya.

"Dosa-dosamu masih sedikit dibandingkan dosa orang lain. Allah Maha Pengampun dan Penyanyang. Dia tidak akan menyiksamu dengan dosa ini,"

godaan syetan.

5. Merasa sulit istiqamah dalam ketaatan setelah taubat. Sesungguhnya taubat menuntut keistiqamahan terhadap ketaatan, sedangkan istiqamah terasa amat berat bagi jiwa. Ketika rasa berat muncul, syetan membisikkan agar dia berputus asa, lalu meninggalkan ketaatan dan kembali melakukan kemaksiatan-kemaksiatan.

6. Berputus asa, yaitu dengan menanamkan perasaan dosanya sudah terlalu banyak, sehingga rasa takutnya menutupi rasa raja' (harap)-nya kepada ampunan dan rahmat Allah. Lalu syetan masuk dari pintu ini dan membisikkan bahwa dosanya tidak akan diampuni, taubatnya tidak akan diterima karena banyaknya dosa yang telah ia lakukan. Pada akhirnya, ia berputus asa dari Rahmat Allah. Dan rasa putus asa ini adalah dosa tersendiri yang menambah dosa yang telah lalu.

Cara mengatasinya, harus selalu mengingat luasnya rahmat Allah dan besar ampunan-Nya. Allah Ta'ala berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

"Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar: 53)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, Allah Ta'ala berfirman:

يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

"Hai anak Adam, sungguh selama engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, Aku akan mengampunimu sebanyak apapun dosamu dan aku tidak perduli. Hai anak Adam, kalau seandainya dosamu mencapai setinggi langit, kemudian engkau beristighfar kepada-Ku, akan aku ampuni dosamu dan aku tidak perduli. Hai anak Adam, sungguh kalau kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam kondisi tidak melakkan syirik, pasti aku akan mendatangkan ampunan sebanyak itu juga." (HR. At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).

Lalu syetan masuk dari pintu ini dan membisikkan bahwa dosanya tidak akan diampuni, taubatnya tidak akan diterima karena banyaknya dosa yang telah ia lakukan.

7. Tertipu dengan banyaknya pelaku maksiat (berserikat dengan pelaku kemaksiatan). Seperti orang yang bersama-sama melakukan perampokan, pencurian atau pembunuhan, lalu dihukum bersama-sama juga. Ia merasa dosa perbuatan itu akan dibagi dengan kelompoknya sehingga masing-masing mendapatkan bagian dosa yang sedikit.

Terkadang karena dosa ini dilakukan bersama-sama sehingga menimbulkan rasa bangga dengan dosa tersebut. Seperti korupsi bareng, mencuri bareng, menjarah bareng atau berzina bareng. Orang yang berbangga dengan perbuatan dosa sulit diharapkan bertaubat dan kesalahnnya tidak akan diampuni.

Orang yang berbangga dengan perbuatan dosa sulit diharapkan bertaubat dan kesalahnnya tidak akan diampuni.

Tanda taubat yang benar

1. Setelah bertaubat ia menjadi lebih baik.

2. Senantiasa merasa takut terhadap adzab atas maksiatnya. Sehingga diharapkan ketika ia wafat, datanglah Malaikat dan mengatakan:

أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

"Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang Telah dijanjikan Allah kepadamu." (QS. Fushilat: 30)

3. Sangat menyesali perbuatan maksiat yang dilakukannya dan takut terhadap akibat buruk yang ditimbulkannya.

Hal-hal yang memotifasi taubat

1. Adanya perintah taubat dan anjuran menyegerakannya.

Firman Allah Ta'ala:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa." (QS. Ali Imran: 133)

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung." (QS. An-Nuur : 31)

Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Allah Ta'ala membuka tangan-Nya pada malam hari untuk memberi taubat bagi pelaku dosa di siang hari, dan membuka tangan-Nya pada malam hari untuk memberi taubat bagi pelaku dosa di malam hari, sehingga matahari terbit dari arah barat." (HR. Ahmad)

2. Mengetahui hubungannya dengan zaman

a. Waktu adalah kehidupan

Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata :

يَا ابْنَ آدَمَ ، إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ مَجْمُوْعَةٌ ، كُلَّمَا مَضَى يَوْمٌ مَضَى بَعْضُكَ إِنَّمَا أَنْتَ بَيْنَ رَاحِلَتَيْنِ تُنْقِلاَنِكَ ، يُنْقِلُكَ اللَّيْلُ إِلَى النَّهَارِ وَيُنْقِلُكَ النَّهَارُ إِلَى اللَّيْلِ، حَتَّى يُسْلِمَانِكَ إِلَى الآخِرَةِ

"Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau bagaikan kumpulan hari. Setiap berlalu satu hari berarti berlalu (hilang) pula sebagian (umur)-mu. Sesungguhnya kamu berada di antara dua tunggangan yang selalu memindahkanmu. Malam memindahkanmu ke siang dan siang memindahkanmu ke malam sehingga menyerahkanmu kepada akhirat." (al Hilyah: 2/148)

Daud Ath Tha’i rahimahullah mengatakan, "Sesungguhnya malam dan siang adalah tempat persinggahan manusia, yang disinggahinya bergantian sampai dia berada pada akhir perjalanannya. Jika engkau mampu menyediakan bekal di setiap tempat persinggahanmu, maka lakukanlah. Berakhirnya safar boleh jadi dalam waktu dekat. Namun, perkara akhirat lebih segera daripada itu. Persiapkanlah perjalananmu (menuju negeri akhirat). Tunaikanlah kewajiban yang patut engkau tunaikan. Karena mungkin saja, perjalananmu akan berakhir dengan tiba-tiba." (al Hilyah: 7/348)

b. Pentingnya memanfaatkan waktu

Dari Ibnu Abbas radliyallah 'anhu, bahwa Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberi nasehat kepada seseorang:

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْل خَمْس ، شَبَابك قَبْل هَرَمك ، وَصِحَّتك قَبْل سَقَمك ، وَغِنَاك قَبْل فَقْرك ، وَفَرَاغك قَبْل شُغْلك ، وَحَيَاتك قَبْل مَوْتك

"Perhatikan lima perkara sebelum datang lima perkara: waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, waktu luangmu sebelum datang waktu sempit (sibuk)mu, kayamu sebelum datang waktu miskinmu dan hidupmu sebelum datang waktu wafatmu." (HR. Al Hakim dalam shahih-nya secara marfu' dan diriwayatkan juga oleh Abdullah bin al Mubarak dalam al Zuhd dengan sanad shahih)

c. Waktu yang berlalu tidak akan kembali

Yaitu dengan melakukan muhasabah diri dari waktu yang sudah dihabiskannya. Caranya dengan mengingat kesalahan dan dosa-dosanya yang telah lalu, supaya menimbulkan rasa tunduk dan hina di hadapan Allah 'Azza wa Jalla. Sehingga waktunya yang akan datang tidak seperti waktunya yang lalu.

Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau bagaikan kumpulan hari. Setiap berlalu satu hari berarti berlalu (hilang) pula sebagian (umur)-mu. . .

3. Malu kepada Allah.

Yaitu dengan menyadari bahwa Allah telah melimpahkan kepadanya nikmat yang banyak, yang dengan itu ia malah bermaksiat dan tidak memenuhi hak-hak-Nya. Inilah yang terkandung dalam doa sayyidul istighfar.

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ

"Ya Allah, Engkau adalah Tuhan-ku, tiada sesembahan yang hak kecuali Engkau, Yang telah menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku berada di atas ikatan dan janji-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan buruk yang kuperbuat. Aku mengakui akan nikmat-Mu kepadaku, dan aku mengakui (banyaknya) dosaku terhadap-Mu, maka ampunilah aku, sesungguhnya tiada yang bisa mengampuni dosa kecuali Engkau." (HR. Al-Bukhari no. 6306)

4. Mengingat kematian dan masa akan datang yang belum tentu kita menemuinya

Ibnu Umar rahimahullah berkata:

إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ اَلصَّبَاحَ, وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ اَلْمَسَاءَ, وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِسَقَمِك, وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ.

"Jika engkau berada di sore hari janganlah menunggu (berharap) pagi hari, dan jika engkau berada di pagi hari janganlah menunggu (berharap) sore hari." (HR. Al-Bukhari no. 6416)

5. Mengingat kondisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Beliau adalah manusia yang telah diampuni dosa-dosanya, baik yang lalu maupun yang akan datang. Tapi, beliau senantiasa beristighfar kepada Allah Ta'ala. Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ

"Wahai manusia bertaubatlah kepada Allah dan meminta ampun kepada-Nya, sungguh aku sehari bertaubat / meminta ampun kepada-Nya sebanyak seratus kali." (HR. Muslim, no. 2702)

Dalam sabdanya yang lain:

وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

"Demi Allah, sungguh aku bertaubat dan beristighfar (meminta ampun) kepada Allah dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali." (HR. Al-Bukhari, no. 6307)

6. Berkawan atau bergaul dengan orang-orang baik / shalih.

Sesungguhnya seseorang berada di atas agama kawan dekatnya. Umar ibnul Khaththab rahimahullah menasehatkan: "Duduklah (bergaullah) bersama orang-orang yang suka taubat, sungguh mereka adalah orang yang lembut hatinya."

Muhammad bin Ka'ab Al-Quradli berkata:

اَلتَّوْبَةُ يَجْمَعُهَا أَرْبَعَةُ أَشْيَاءٍ : الاِسْتِغْفَارُ بِاللِّسَانِ، وَالإِقْلاَعُ بِالأَبْدَانِ، وَإِضْمَارُ تَرْكِ الْعُوْدِ بِالْجِنَانِ، وَمُهَاجَرَةُ سَيِّءِ الْإِخْوَانِ

"Taubat terkumpul dalam empat perkara: istighfar dengan lisan, meninggalkan (perbuatan itu) dengan badannya, dan bertekad tidak akan mengulanginya dengan hati serta menjauhi kawan yang buruk."

7. Meniti jalan salafush shalih, seperti jalan taubatnya Maiz bin Malik dan wanita Ghamidiyah serta yang lainnya.

Balasan Bagi Yang Berbuat Kebaikkan


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Sesungguh nya Allah menyayangi hamba-hamba-Nya yang penyayang". (HR. al-Bukhari).
Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula), barangsiapa menyayangi makhluq Allah maka Allah akan menyayanginya. Sebagai mana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
"Orang-orang yang penyayang, maka Allah akan menyayangi mereka. Sayangilah penduduk bumi maka penduduk langit akan menyayangi kalian". (HR. At-Tirmidzi).
Balasan itu sesuai dengan jenis amal perbuatan yang dilakukan. Allah subhanahu wata’ala akan memperlakukan hamba-Nya sebagaimana perlakuan hamba tersebut terhadap hamba-hamba Allah. Allah subhanahu wata’ala berfirman yang artinya,
"Jikalau kalian memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS. At-Taghabun:14).
Dan juga firman Allah subhanahu wata’ala dalam surat An-Nur ayat 22 yang artinya,
"Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?".
Bersegeralah untuk meringankan kesulitan-kesulitan orang lain agar Allah meringankan kesulitan dari dirimu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Barangsiapa menghilangkan satu kesulitan dari seorang muslim maka Allah akan membalasnya dengan menghilangkan satu kesulitan dari kesulitan-keslitan yang ada pada hari Kiamat". (HR. al-Bukhari).
Bantulah manusia memenuhi kebutuhan hidupnya, maka dengan cara itu engkau akan mendapatkan pertolongan dari Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Allah selalu menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya".
Juga sabda beliau,
"Barangsiapa berada di dalam kebutuhan saudaranya maka Allah berada di dalam kebutuhannya". (HR. Imam Muslim).
Jadilah engkau seorang hamba Allah yang menghilangkan kesukaran orang-orang yang tertimpa kesulitan niscaya Allah akan memberi kemudahan kepada kamu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Barangsiapa yang memudahkan orang yang kesulitan maka Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat". (HR. Muslim).
Bersikap lemahlembutlah terhadap hamba-hamba Allah, semoga engkau termasuk golongan yang tersirat dalam do'a yang dipanjatkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,
"Ya Allah, barangsiapa bersikap lembut terhadap umatku, maka perlakukanlah ia dengan lembut dan barangsiapa yang membuat kesukaran kepada mereka maka ciptakanlah kesukaran baginya". (HR. Ahmad).
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,
“Sesungguhnya Allah Maha lemah lembut dan mencintai kelembutan. Dia memberikan pada kelemah lembutan apa yang tidak Dia berikan pada kekerasan". (HR. Muslim).
Dan juga sabda beliau,
“Barangsiapa terhalang untuk mendapat sifat lemah lembut maka ia terhalang dari semua kebaikan". (HR. Muslim).
Tutupilah aib hamba-hamba Allah, maka Allah subhanahu wata’ala akan menutupi aibmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Barangsiapa menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat". (HR. Muslim).
Dan sabda beliau,
"Barangsiapa menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya pada hari Kiamat". (HR. Ibnu Majah).
Berilah makan kaum muslimin niscaya Allah subhanahu wata’ala akan memberi makanan kepadamu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Mukmin manapun yang memberi makan seorang mukmin ketika lapar maka Allah akan memberikannya makanan dari buah-buahan Surga.” (HR. Imam At-Tirmidzi).
Berilah minum kaum muslimin maka Allah subhanahu wata’ala akan memberikan minuman kepadamu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah besabda,
"Mukmin manapun yang memberi minum seorang mukmin yang sedang kehausan maka Allah akan memberinya minum pada hari Kiamat dari Ar-Rohiq Al-Makhtum". (HR. At-Tirmidzi)
Berilah kaum muslimin pakaian niscaya Allah akan memberi pakaian kepadamu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
"Mukmin mana pun yang memberi pakaian kepada seseorang yang telanjang maka Allah akan memberinya pakaian sutra halus berwarna hijau dari Surga". (HR. at-Tirmidzi).
Sebagaimana perlakuanmu terhadap hamba-hamba Allah, maka seperti itu pula perlakuan Allah terhadapmu. Oleh karena itu, janganlah sekali-kali engkau menyiksa manusia karena sesungguhnya Allah akan menyiksamu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Sesungguhnya Allah menyiksa orang-orang yang menyiksa manusia di dunia". (HR. Imam Muslim).
Allah subhanahu wata’ala juga telah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 49 yang artinya,
"Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir'aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya".
Dalam ayat lain Allah subhanahu wata’ala berfirman yang artinya,
"Dan pada hari terjadinya kiamat, (dikatakan kepada malaikat), "Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras". (QS. Al-Mukmin: 46).
Hindarilah dirimu dari mempersulit hamba-hamba Allah karena hal itu dapat membuatmu tertimpa do'a yang diucapkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,
"Ya Allah, barangsiapa yang mengurusi urusan umatku lalu membuat susah mereka, maka buatlah kesusahan baginya". (HR. Muslim).
Janganlah engkau menyakiti hati kaum muslimin dengan mencari-cari aib mereka karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,
"Barangsiapa mencari-cari aib seorang muslim, maka Allah akan mencari-cari aibnya. Dan barangsiapa yang Allah menelusuri (mencari-cari) aibnya maka Allah akan membongkarnya meskipun berada di dalam rumahnya". (HR. At-Tirmidzi).
Janganlah engkau cabut rasa kasih sayangmu kepada manusia karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,
"Barang siapa yang tidak menyayangi manusia, maka Allah Azza wa Jalla tidak menyayanginya". (HR. Muslim).
Ingatlah baik-baik wahai hamba-hamba Allah! Di mana engkau memperlakukan hamba-hamba Allah dengan sebuah perbuatan, maka engkau akan mendapatkan balasan yang sesuai dengan apa yang telah engkau kerjakan di sisi Sang Pencipta.
Imam Ibnul Qoyyim berkata, "Sesungguhnya Allah Maha Mulia dan Ia mencintai kemuliaan dari hamba-Nya. Allah Maha Mengetahui (berilmu), dan mencintai para ulama. Allah Maha berkuasa, mencintai para pemberani. Allah Maha Indah, mencintai keindahan. Allah Maha Penyayang, menyayangi orang-orang yang penyayang. Sesungguhnya Allah menyayangi hamba-hamba-Nya yang penyayang. Allah Maha Menutupi (aib), mencintai orang-orang yang menutupi aib hamba-hamba-Nya. Allah Maha Pemaaf, mencintai hamba-Nya yang senang memberi maaf. Allah Maha Pengampun, mencintai hamba-Nya yang mengampuni kesalahan orang lain. Allah Maha Lembut, mencintai kelembutan dari hamba-hamba-Nya dan membenci kekerasan. Allah Maha Santun, mencintai sopan santun.

Allah Maha Baik, mencintai kebaikan dan pelakunya. Allah Maha Adil, mencintai keadilan. Allah Maha Menerima udzur (alasan yang dibenarkan), mencintai orang yang menerima udzur hamba-hamba-Nya.

Allah
subhanahu wata’ala akan memberi balasan kepada hamba-Nya sesuai dengan sifat-sifat ini. Maka barangsiapa memaafkan maka Allah akan memaafkannya. Barangsiapa siapa yang mengampuni kesalahan manusia maka Allah akan mengampuninya. Barang siapa bersikap dermawan kepada orang lain maka Allah subhanahu wata’ala akan bersikap dermawan kepada nya. Barangsiapa memusuhi hamba-hamba Allah maka Allah akan memusuhinya.

Barangsiapa bersikap lemah lembut kepada hamba-hamba Allah maka Allah akan bersikap lemah lembut kepadanya. Barangsiapa menyayangi makhluk Allah maka Allah akan menyayanginya. Barangsiapa berbuat baik kepada manusia maka Allah akan berbuat baik kepada-Nya. Barangsiapa memberi manfaat kepada manusia maka Allah akan memberikan manfaat kepadanya. Barangsiapa menutupi aib saudaranya maka Allah
subhanahu wata’ala maka menutupi kekurangan atau kesalahannya. Barangsiapa berusaha untuk tidak marah kepada manusia maka Allah tidak akan marah kepadanya.

Barangsiapa mencari-cari aib manusia maka Allah akan menelusuri aib-aibnya. Barangsiapa membuka kejelekan hamba-hamba Allah maka Allah akan membuka dan membeberkan kejelekannya. Barangsiapa enggan berbuat baik kepada manusia maka Allah tidak akan berbuat baik kepadanya. Barangsiapa membuat sulit seseorang maka Allah akan memberinya kesukaran (masalah). Barangsiapa berbuat makar, maka Allah akan membalas makar kepadanya. Barangsiapa menipu Allah maka Allah akan memberikan balasan kepadanya dengan tipuan pula.


Dan barangsiapa memperlakukan seseorang dengan sebuah sifat maka Allah akan memperlakukannya dengan sifat itu sendiri di dunia dan akhirat. Allah akan memperlakukan hamba-Nya sesuai dengan perlakuan hamba terhadap makhluk-Nya.


Maka tamaklah engkau -semoga Allah memberi taufik kepadamu- untuk senantiasa memberi manfaat kepada hamba-hamba Allah, untuk merealisasikan sebuah sabda Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam,
"Barangsiapa diantara kalian mampu memberi mafaat terhadap saudaranya maka lakukanlah". (HR. Muslim).
Berbuat baiklah kepada mereka sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.

Jadilah engkau seorang yang lembut yang senang memudahkan urusan mereka. Karena Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,
"Neraka itu haram menyentuh setiap orang yang lunak, lembut, mudah (dalam bermuamalah) dan dekat (dengan manusia)". (HR. Imam Ahmad).
Maafkanlah mereka, janganlah mudah marah, toleransilah terhadap mereka dan senantiasalah menjadi seorang pengampun. Semoga Allah subhanahu wata’ala mengampuni segala dosa dan kesalahanmu. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala seseorang yang memperbagus amal perbuatannya.

Surat 99 Al-zalzalah: 7-8

"Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya pula."


Ayat diatas adalah merupakan ayat yang seadil-adilnya dari Tuhan, dimana Tuhan tidak akan pernah menjolimi (berbuat tidak adil kepada manusia) khususnya kepada mukmin. Nah telah jelas terlihat bahwa Allah akan memberikan balasan pahala bagi orang2 yang berbuat baik walau sebesar biji sesawi demikian juga kepada orang yg berbuat kejahatan walaupun sebesar biji sesawi tetap mendapat ganjaran adil bukan?

Nah kita sampai mengenai balasan.... lalu apakah balasan itu kelak di akhirat, yah tidak lain tidak bukan adalah Selamat dan tidak selamatnya manusia, jadi maksud dari surah 99:7-8 itu adalah merasakan hukuman / balasannya bagi orang yg pernah berbuat dosa dan merasakan nikmat bagi yang pernah berbuat kebajikan..

Karena itulah maka ada ayat lain dari Alquran yg mengatakan:

"Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut." (Maryam 19:71-72).

Mengapakah ayat diatas menerangkan bahwa semua manusia itu harus mendatangi neraka dulu? Karena tidak satu manusiapun yang luput dari dosa dan kesalahan
sesuai dengan ayat Alquran dibawah ini;

"Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima-kasih kepada Tuhannya, dan sesungguhnya menyaksikan sendiri keingkarannya (Aadiyaat:100,6-7)

Hal itu benar, diayat lain juga Alquran mengatakan bahwa semua manusia telah berdosa, tersentuh setan . Nah karena semua manusia pernah berdosa terlepas itu apakah dosa besar atau kecil tetapi sesuai dengan konsep keadilan surah 99:7-8 maka wajib harus mendapatkan ganjaran atas dosanya didalam penghukuman (lihat juga surah 19:71-72)


Demikian juga hal diatas dikuatkan dalam hadist seperti dibawah ini;Dari Anas r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Dikeluarkan dari neraka orang yang mengucapkan (Laa Ilaaha Illallah) dan di dalam hatinya ada seberat biji dari kebaikan (iman)." (HR Bukhari 44 dan Muslim 193)

Hadist ini telah mengatakan bahwa manusia nantinya akan dikeluarkan dari neraka setelah mengucapkan Laa Ilaaha Illallah dan juga karena didalam hatinya telah ada seberat biji kebaikan (amal dan iman) ketika masa hidupnya di dunia.

Mengenai hal itu seorang pakar Islam terkenal bertaraf international dari Karachi Pakistan mengemukakan dalam bukunya 'ISLAM dan KRISTEN Dalam Perspektif Ilmu Perbandingan Agama' pada hal. 63-64 yang telah dikaji staf pengajar Magister Studi Islam Pasca Sarjana dari salah
satu universitas di Indonesia, mengakui bahwa: "Neraka merupakan tempat penebusan dosa-dosa (semacam rumah sakit), untuk penyembuhan melalui api yang menyakitkan dan menimbulkan kepedihan".

Manusia tidak mempunyai kekuatan untuk melakukan terus-menerus yang baik dan hanya yang baik saja.Karena baik menurut kita tetapi bisa saja salah dihadapan Allah, sebab manusia hanya mengetahui apa-apa yang terlihat sedangkan Allah Maha mengetahui segalanya.

Karena tidak satu manusiapun yang luput dari dosa dan kesalahan sesuai dengan ayat Alquran dibawah ini;

"Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima-kasih kepada Tuhannya, dan sesungguhnya menyaksikan sendiri keingkarannya (Aadiyaat: 100,6-7)

Dikuatkan dalam hadist lain;
Ibnu mas'ud berkata kepada nabi, "Semua orang akan masuk ke neraka. Kemudian mereka akan keluar dari sana menurut perbuatannya. Mereka yang keluar yang paling pertama akan seperti sebuah kilat, yang berikut seperti taufan, yang kemudian seperti kuda yang lari cepat, sesudah itu seperti penunggang kuda yang cekatan, kemudian seperti seorang yang melompat dan akhirnya sebagai orang yang berjalan"
(Tirmidhi dan Damini).

Mengenai hal ini, Allah Taala berfirman yang bermaksud: "Timbangan amal pada hari kiamat adalah satu keadilan yang benar, maka sesiapa yang berat timbangan kebaikannya, mereka itulah orang yang berjaya memperoleh apa yang mereka harapkan; dan sesiapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang yang merugikan diri
sendiri dengan sebab mereka meletakkan ayat keterangan Kami pada bukan tempatnya". (Surah Al-A'raf, ayat 8-9).


Dalam ayat lain pula, Allah berfirman yang bermaksud: "Dan Kami akan mengadakan timbangan yang adil pada hari kiamat. Oleh itu, maka tidak ada seseorang yang akan teraniaya barang sedikit pun, walau amalannya seberat biji sawi, Kami tetap menghitungnya, dan cukuplah Kami menjadi penghitung". (Surah Al-Anbia' ayat 47).

Dari Abu Hurairah, katanya, Rasulullah SAW bersabda maksudnya: "Kamu tidak akan masuk syurga hingga kamu beriman. Kamu tidak akan beriman hingga kamu berkasih-kasihan. Adakah tidak aku tunjukkan kamu suatu? Apabila kamu kerjakan, kamu akan berkasih-kasihan? yaitu sebarkan
salam di kalangan kamu." (Hadis riwayat Muslim dan Abu Daud).

Dalam hadis ini, Rasulullah menunjukkan kepada kita sebagai umatnya ada suatu rahasia yang paling menyenangkan untuk dilaksanakan sebagai jalan menuju ke syurga yaitu menyebarkan salam dengan seluas-luasnya di kalangan umat Islam, berkasih sayang sesama sendiri dan keimanan mendalam.

Salam dapat mempengaruhi manusia ke arah hidup yang lebih harmoni. Oleh itu, sebarkan salam di kalangan kamu karena itulah kunci rahasia ke syurga.

Maka segerakanlah bertobat dengan yang sebenar benarnya ..sebelum semua terlambat ...sebelum ajal menjemput....

" Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang diantara mereka (barulah) ia mengatakan: "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang" Dan tidak pula (diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah
Kami sediakan siksaan yang pedih (QS Annisa 4:18)

"Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan , yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (QS Annisa 4:17)

22 Akibat Berbuat Maksiat


“Seorang mukmin jika berbuat satu dosa, maka ternodalah hatinya dengan senoktah warna hitam. Jika dia bertobat dan beristighfar, hatinya akan kembali putih bersih. Jika ditambah dengan dosa lain, noktah itu pun bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah karat yang disebut-sebut Allah dalam ayat, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (HR Tarmidzi)

Tahukah Anda sekalian apa akibat yang menimpa diri kita jika kita melakukan maksiat? Ibnu Qayyim Al-Jauziyah telah meneliti tentang hal ini. Menurutnya, ada 22 akibat yang akan menimpa diri kita. Karena itu, renungkahlah, wahai orang-orang yang berakal!

Akibat yang pertama adalah maksiat akan menghalangi diri kita untuk mendapatkan ilmu pengetahuan حُرْماََنُ الْعٍلْمِ

Ilmu adalah cahaya yang dipancarkan ke dalam hati. Tapi ketahuilah, kemaksiatan dalam hati kita dapat menghalangi dan memadamkan cahaya itu. Suatu ketika Imam Malik melihat kecerdasan dan daya hafal Imam Syafi’i yang luar biasa. Imam Malik berkata, “Aku melihat Allah telah menyiratkan dan memberikan cahaya di hatimu, wahai anakku. Janganlah engkau padamkan cahaya itu dengan maksiat.”

Perhatikan, wahai Saudaraku sekalian, Imam Malik menunjukkan kepada kita bahwa pintu ilmu pengetahuan akan tertutup dari hati kita jika kita melakukan maksiat.

Akibat yang kedua adalah maksiat akan menghalangi Rezeki حُرْمَانُ الرِزْق

Jika ketakwaan adalah penyebab datangnya rezeki, maka meninggalkan ketakwaan berarti menimbulkan kefakiran. Rasulullah saw. pernah bersabda, “Seorang hamba dicegah dari rezeki akibat dosa yang diperbuatnya.” (HR. Ahmad)

Karena itu, wahai Saudaraku sekalian, kita harus meyakini bahwa takwa adalah penyebab yang akan mendatangkan rezeki dan memudahkan rezeki kita. Jika saat ini kita merasakan betapa sulitnya mendapatkan rezeki Allah, maka tinggalkan kemaksiatan! Jangan kita penuhi jiwa kita dengan debu-debu maksiat.

Akibat ketiga, maksiat membuat kita berjarak dengan Allah.

Diriwayatkan ada seorang laki-laki yang mengeluh kepada seorang arif tentang kesunyian jiwanya. Sang arif berpesan, “Jika kegersangan hatimu akibat dosa-dosa, maka tinggalkanlah perbuatan dosa itu. Dalam hati kita, tak ada perkara yang lebih pahit daripada kegersangan dosa di atas dosa.”

Akibat maksiat yang keempat adalah kita akan punya jarak dengan orang-orang baik.

Semakin banyak dan semakin berat maksiat yang kita lakukan, akan semakin jauh pula jarak kita dengan orang-orang baik. Sungguh jiwa kita akan kesepian. Sunyi. Dan jiwa kita yang gersang tanpa sentuhan orang-orang baik itu, akan berdampak pada hubungan kita dengan keluarga, istri, anak-anak, dan bahkan hati nuraninya sendiri. Seorang salaf berkata, “Sesungguhnya aku bermaksiat kepada Allah, maka aku lihat pengaruhnya pada perilaku binatang (kendaraan) dan istriku.”

Akibat kelima, maksiat membuat sulit semua urusan kita تَعْسِيْرُ أُمُوْرِهِ

Jika ketakwaan dapat memudahkan segala urusan, maka kemaksiatan akan mempesulit segala urusan pelakunya. Ketaatan adalah cahaya, sedangkan maksiat adalah gelap gulita. Ibnu Abbas r.a. berkata, “Sesungguhnya perbuatan baik itu mendatangkan kecerahan pada wajah dan cahaya pada hati, kekuatan badan dan kecintaan. Sebaliknya, perbuatan buruk itu mengundang ketidakceriaan pada raut muka, kegelapan di dalam kubur dan di hati, kelemahan badan, susutnya rezeki dan kebencian makhluk.”

Begitulah, wahai Saudaraku, jika kita gemar bermaksiat, semua urusan kita akan menjadi sulit karena semua makhluk di alam semesta benci pada diri kita. Air yang kita minum tidak ridha kita minum. Makanan yang kita makan tidak suka kita makan. Orang-orang tidak mau berurusan dengan kita karena benci.

Akibat keenam, maksiat melemahkan hati dan badan أَنَ المَعاَ صِي تُوْهِن القَلْب َ و الْبَدَنَ

Kekuatan seorang mukmin terpancar dari kekuatan hatinya. Jika hatinya kuat, maka kuatlah badannya. Tapi pelaku maksiat, meskipun badannya kuat, sesungguhnya dia sangat lemah. Tidak ada kekuatan dalam dirinya.

Wahai Saudaraku, lihatlah bagaimana menyatunya kekuatan fisik dan hati kaum muslimin pada diri generasi pertama. Para sahabat berhasil mengalahkan kekuatan fisik tentara bangsa Persia dan Romawi padahal para sahabat berperang dalam keadaan berpuasa!

Akibat maksiat yang ketujuh adalah kita terhalang untuk taat حُرْماَن الطاَعَةِ

Orang yang melakukan dosa dan maksiat cenderung untuk tidak taat. Orang yang berbuat masiat seperti orang yang satu kali makan, tetapi mengalami sakit berkepanjangan. Sakit itu menghalanginya dari memakan makanan lain yang lebih baik. Begitulah. Jika kita hobi berbuat masiat, kita akan terhalang untuk berbuat taat.

Maksiat memperpendek umur dan menghapus keberkahan أنَ المَعاَ صِي تَقْصرُ العُمْرَ وبرَكَتَُهُ

Ini akibat maksiat yang kedelapan. Pada dasarnya, umur manusia dihitung dari masa hidupnya. Padahal, tidak ada kehidupan kecuali jika hidup itu dihabiskan untuk ketaatan, ibadah, cinta, dan dzikir kepada Allah serta mencari keridhaan-Nya.

Jika usia kita saat ini 40 tahun. Tiga per empatnya kita isi dengan maksiat. Dalam kacamata iman, usia kita tak lebih hanya 10 tahun saja. Yang 30 tahun adalah kesia-siaan dan tidak memberi berkah sedikitpun. Inilah maksud pendeknya umur pelaku maksiat.

Sementara, Imam Nawawi yang hanya diberi usia 30 tahun oleh Allah swt. Usianya begitu panjang. Sebab, hidupnya meski pendek namun berkah. Kitab Riyadhush Shalihin dan Hadits Arbain yang ditulisnya memberinya keberkahan dan usia yang panjang, sebab dibaca oleh manusia dari generasi ke generasi hingga saat ini dan mungkin generasi yang akan datang.

Akibat kesembilan, maksiat menumbuhkan maksiat lain ان المَعاصِي تَزْرَع أَمْثالها

Seorang ulama salaf berkata, jika seorang hamba melakukan kebaikan, maka hal tersebut akan mendorongnya untuk melakukan kebaikan yang lain dan seterusnya. Dan jika seorang hamba melakukan keburukan, maka dia pun akan cenderung untuk melakukan keburukan yang lain sehingga keburukan itu menjadi kebiasaan bagi pelakunya.

Karena itu, hati-hatilah, Saudaraku. Jangan sekali-kali mencoba berbuat maksiat. Kalian akan ketagihan dan tidak bisa lagi berhenti jika sudah jadi kebiasaan!

Maksiat mematikan bisikan hati nurani ضْعِفُ القَلْبَ

Ini akibat berbuat maksiat yang kesepuluh. Maksiat dapat melemahkan hati dari kebaikan. Dan sebaliknya, akan menguatkan kehendak untuk berbuat maksiat yang lain. Maksiat pun dapat memutuskan keinginan hati untuk bertobat. Inilah yang menjadikan penyakit hati paling besar: kita tidak bisa mengendalikan hati kita sendiri. Hati kita menjadi liar mengikuti jejak maksiat ke maksiat yang lain.

Jika sudah seperti itu, hati kita akan melihat maksiat begitu indah. Tidak ada keburukan sama sekali أَنْ يَنْسَلِخَ مِنَ القَلْبِ إسْتٌقْبَاحُها

Itulah akibat maksiat yang kesebelas. Tidak ada lagi rasa malu ketika berbuat maksiat. Jika orang sudah biasa berbuat maksiat, ia tidak lagi memandang perbuatan itu sebagai sesuatu yang buruk. Tidak ada lagi rasa malu melakukannya. Bahkan, dengan rasa bangga ia menceritakan kepada orang lain dengan detail semua maksiat yang dilakukannya. Dia telah menganggap ringan dosa yang dilakukannya. Padahal dosa itu demikian besar di mata Allah swt.

Para pelaku maksiat yang seperti itu akan menjadi para pewaris umat yang pernah diazab Allah swt.

Ini akibat kedua belas yang menimpa pelaku maksiat. ميْراَثٌ عَن ْ أُمَةٍ منَ الأُمَمِ التِي أهْلَكَهاَ اللهُ

Homoseksual adalah maksiat warisan umat nabi Luth a.s. Perbuatan curang dengan mengurangi takaran adalah maksiat peninggalan kaum Syu’aib a.s. Kesombongan di muka bumi dan menciptakan berbagai kerusakan adalah milik Fir’aun dan kaumnya. Sedangkan takabur dan congkak merupakan maksiat warisan kaum Hud a.s.

Dengan demikian, kita bisa simpulkan bahwa pelaku maksiat zaman sekarang ini adalah pewaris kaum umat terdahulu yang menjadi musuh Allah swt. Dalam musnad Imam Ahmad dari Ibnu Umar disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongannya.” Na’udzubillahi min dzalik! Semoga kita bukan salah satu dari mereka.

Akibat berbuat maksiat yang ketiga belas adalah maksiat menimbulkan kehinaan dan mewariskan kehinadinaan أن َ الْمَعْصِيةَ سَبَبٌ لِهَوانِ العَبْد وَسُقُوطُه مِن ْ عَيْنِهِ

Kehinaan itu tidak lain adalah akibat perbuatan maksiat kepada Allah sehingga Allah pun menghinakannya. “Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (Al-Hajj:18). Sedangkan kemaksiatan itu akan melahirkan kehinadinaan. Karena, kemuliaan itu hanya akan muncul dari ketaatan kepada Allah swt. “Barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu….” (Al-Faathir:10). Seorang Salaf pernah berdoa, “Ya Allah, anugerahilah aku kemuliaan melalui ketaatan kepada-Mu; dan janganlah Engkau hina-dinakan aku karena aku bermaksiat kepada-Mu.”

Akibat keempat belas, maksiat merusak akal kita اِنَ اْلمَعَاصِي تُفْسِدُ الْعَقْلَ

Tidak mungkin akal yang sehat lebih mendahulukan hal-hal yang hina. Ulama salaf berkata, seandainya seseorang itu masih berakal sehat, akal sehatnya itu akan mencegahnya dari kemaksiatan kepada Allah. Dia akan berada dalam genggaman Allah, sementara malaikat menyaksikan, dan nasihat Al-Qur’an pun mencegahnya, begitu pula dengan nasihat keimanan. Tidaklah seseorang melakukan maksiat, kecuali akalnya telah hilang!

Akibat kelima belas, maksiat menutup hati.

Allah berfirman, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (Al-Muthaffifiin:14). Imam Hasan mengatakan hal itu sebagai dosa yang berlapis dosa. Ketika dosa dan maksiat telah menumpuk, maka hatinya pun telah tertutup.

Akibat keenam belas, pelaku maksiat mendapat laknat Rasulullah saw.

Saudaraku sekalian, Rasulullah saw. melaknat perbuatan maksiat seperti mengubah petunjuk jalan, padahal petunjuk jalan itu sangat penting (HR Bukhari); melakukan perbuatan homoseksual (HR Muslim); menyerupai laki-laki bagi wanita dan menyerupai wanita bagi laki-laki; mengadakan praktik suap-manyuap (HR Tarmidzi), dan sebagainya. Karena itu, tinggalkanlah semua itu!

Akibat ketujuh belas, maksiat menghalangi syafaat Rasulullah dan Malaikat.

Kecuali, bagi mereka yang bertobat dan kembali kepada jalan yang lurus. Allah swt. berfirman, “(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman seraya mengucapkan: ‘Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyla-nyala. Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang shalih d iantara bapak-bapak mereka, istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan.” (Al-Mukmin: 7-9)

Akibat kedelapan belas, maksiat melenyapkan rasa malu.

Padahal, malu adalah pangkal kebajikan. Jika rasa malu telah hilang dari diri kita, hilangkah seluruh kebaikan dari diri kita. Rasulullah bersabda, “Malu itu merupakan kebaikan seluruhnya. Jika kamu tidak merasa malu, berbuatlah sesukamu.” (HR. Bukhari)

Akibat kesembilan belas, maksiat yang kita lakukan adalah bentuk meremehkan Allah.

Jika kita melakukan maksiat, disadari atau tidak, rasa untuk mengagungkan Allah perlahan-lahan lenyap dari hati kita. Ketika kita bermaksiat, kita sadari atau tidak, kita telah menganggap remeh adzab Allah. Kita mengacuhkan bahwa Allah Maha Melihat segala perbuatan kita. Sungguh ini kedurhakaan yang luar biasa!

Maksiat memalingkan perhatian Allah atas diri kita. Ini akibat yang kedua puluh.

Allah akan membiarkan orang yang terus-menerus berbuat maksiat berteman dengan setan. Allah berfirman, “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Al-Hasyir: 19)

Maksiat melenyapkan nikmat dan mendatangkan azab. Ini akibat yang kedua puluh satu.

Allah berfirman, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy-Syura: 30)

Ali r.a. berkata, “Tidaklah turun bencana melainkan karena dosa. Dan tidaklah bencana lenyap melainkan karena tobat.” Karena itu, bukankah sekarang waktunya bagi kita untuk segera bertobat dan berhenti dari segala maksiat yang kita lakukan?

Dan akibat yang terakhir, yang kedua puluh dua, maksiat memalingkan diri kita dari sikap istiqamah.

Kita hidup di dunia ini sebenarnya bagaikan seorang pedagang. Dan pedagang yang cerdik tentu akan menjual barangnya kepada pembeli yang sanggup membayar dengan harga tinggi. Saudaraku, siapakah yang sanggup membeli diri kita dengan harga tinggi selain Allah? Allah-lah yang mampu membeli diri kita dengan bayaran kehidupan surga yang abadi. Jika seseorang menjual dirinya dengan imbalan kehidupan dunia yang fana, sungguh ia telah tertipu!